Example 728x250
Berita

Menua di Jakarta: Sudahkah Kota Ini Benar-Benar Ramah bagi Lansia?

160
×

Menua di Jakarta: Sudahkah Kota Ini Benar-Benar Ramah bagi Lansia?

Sebarkan artikel ini
kota ramah lansia di Jakarta
gambar realitas para lansia indonesia sedang berkumpul

Golansia.com – Jakarta dikenal sebagai kota yang bergerak cepat dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas yang tinggi. Namun di tengah pertumbuhan kota yang pesat, muncul pertanyaan penting: apakah Jakarta telah menjadi tempat yang nyaman dan ramah bagi penduduk yang memasuki usia lanjut?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Menua di Antara Sudut Kota pada ajang Jakarta Future Festival yang berlangsung pada Minggu (7/6/2026).

Para pembicara sepakat bahwa tantangan lansia di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut desain kota, hunian, akses sosial, hingga kualitas interaksi antarwarga.

Hanya Sebagian Kecil Lansia yang Benar-Benar Bugar

Dokter spesialis geriatri Esthika Dewiasty mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan lansia di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Berdasarkan penelitian multisenter yang dilakukan di Indonesia, hanya sekitar 13 persen lansia yang tergolong fit atau bugar. Sementara sebagian besar lainnya berada dalam kategori pre-frail atau pra-renta, yakni kondisi di antara sehat dan rentan.

Menurut Esthika, kelompok inilah yang perlu mendapatkan perhatian khusus melalui berbagai intervensi kesehatan dan gaya hidup.

Ia menekankan bahwa persiapan menuju masa tua tidak dimulai saat seseorang telah memasuki usia lanjut, melainkan jauh sebelumnya. Di Indonesia, kelompok pra-lansia umumnya dimulai sejak usia 45 tahun.

“Investasi kesehatan sama pentingnya dengan investasi keuangan. Waktu terbaik memulainya adalah saat muda, dan waktu terbaik berikutnya adalah sekarang,” ujarnya.

Umur Panjang Belum Tentu Sehat

Esthika juga menyoroti adanya kesenjangan antara angka harapan hidup dan harapan hidup sehat masyarakat Indonesia.

Saat ini, harapan hidup perempuan berada di kisaran 74 tahun, sedangkan laki-laki sekitar 70 tahun. Namun, rata-rata harapan hidup sehat hanya mencapai usia sekitar 63 tahun.

Artinya, banyak orang yang hidup lebih lama, tetapi harus menjalani tahun-tahun terakhir kehidupannya dalam kondisi kesehatan yang menurun.

Menurutnya, upaya menjaga kesehatan sejak usia produktif menjadi kunci untuk memperkecil kesenjangan tersebut.

Keterhubungan Sosial Tak Kalah Penting

Selain kesehatan fisik, faktor sosial juga berperan besar dalam menentukan kualitas hidup lansia.

Esthika menjelaskan bahwa perubahan perilaku yang mendadak pada lansia sering kali menjadi tanda awal gangguan kesehatan. Karena itu, lingkungan yang saling mengenal dan peduli dapat membantu mendeteksi masalah lebih dini.

Kehadiran tetangga, keluarga, dan komunitas yang aktif dinilai mampu mengurangi risiko kesepian sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia.

Tantangan Hunian dan Tata Kota

Program Director Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Dian Tri Irawaty, menilai bahwa pembangunan kota perlu lebih memperhatikan kebutuhan lansia.

Menurutnya, hunian vertikal dan relokasi warga ke kawasan baru berpotensi menimbulkan isolasi sosial apabila tidak dirancang dengan baik.

Ia mencontohkan sistem pengundian unit di sejumlah rumah susun yang dapat memisahkan warga dari lingkungan sosial yang selama ini telah terbentuk.

Selain itu, ketergantungan penuh pada lift di gedung-gedung tinggi juga dinilai dapat mengurangi aktivitas fisik sehari-hari yang penting bagi kesehatan lansia.

Kampung Susun Akuarium Jadi Contoh

Pengalaman menarik datang dari Kampung Susun Akuarium di Jakarta Utara.

Perwakilan warga, Dharma Diani atau Bu Yani, menjelaskan bahwa lingkungan ramah lansia dibangun dengan prinsip “dekat, datar, dan kenal”.

Lansia ditempatkan di lantai bawah agar lebih mudah mengakses taman, ruang terbuka, kebun bersama, serta berbagai fasilitas komunal lainnya.

Selain itu, warga juga membentuk tim peduli dan mengadakan kegiatan rutin seperti terapi lansia untuk menjaga interaksi sosial dan mengurangi rasa kesepian.

Menurut Bu Yani, ruang komunal yang nyaman, taman, bangku-bangku untuk berinteraksi, serta keterlibatan komunitas menjadi faktor penting agar lansia tetap aktif dan tidak merasa terisolasi.

Pemerintah Terus Kembangkan Program Lansia

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia, mengatakan bahwa pemerintah telah menjalankan berbagai program bagi lansia.

Program tersebut antara lain Sekolah Lansia, Kartu Lansia Jakarta, bantuan transportasi, serta pendampingan berbasis komunitas.

Pemerintah juga terus mendorong pengembangan Sekolah Lansia yang dirancang untuk memperkuat berbagai aspek kehidupan lansia, mulai dari kesehatan, kemandirian, hingga keterlibatan sosial.

Kota Ramah Lansia Bukan Sekadar Soal Bantuan

Diskusi ini menghasilkan satu kesimpulan penting: kota ramah lansia tidak cukup dibangun hanya melalui bantuan sosial dan layanan kesehatan.

Lingkungan yang mendukung aktivitas fisik, ruang publik yang mudah diakses, hunian yang aman, serta komunitas yang menjaga keterhubungan sosial memiliki peran yang sama pentingnya.

Dengan jumlah penduduk lansia yang terus meningkat, Jakarta dituntut untuk terus berbenah agar menjadi kota yang tidak hanya nyaman bagi generasi muda, tetapi juga layak dihuni oleh mereka yang memasuki masa tua.

Sebab pada akhirnya, kota yang ramah lansia adalah kota yang ramah bagi semua usia.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *