Example 728x250
Berita

Anak Sudah Mandiri, Mengapa Banyak Lansia Tetap Kesulitan Keuangan? Ini Penjelasan Para Ahli

189
×

Anak Sudah Mandiri, Mengapa Banyak Lansia Tetap Kesulitan Keuangan? Ini Penjelasan Para Ahli

Sebarkan artikel ini
Keuangan Lansia Tetap Tertekan
seorang lansiayang masih bekerja keras di sebuah warung kecil di area pemukiman padat penduduk.

Golansia.com – Banyak orang beranggapan kondisi keuangan akan menjadi lebih ringan ketika anak-anak telah dewasa dan memiliki pekerjaan. Namun kenyataannya, tidak sedikit lansia di Indonesia yang masih menghadapi tekanan finansial meski anak-anak mereka sudah mandiri.

Para perencana keuangan menilai persoalan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dana pensiun yang tidak memadai, inflasi yang terus menggerus daya beli, hingga tingginya biaya kesehatan di usia lanjut.

Perencana keuangan sekaligus pendiri Finante.id, Rista Zwestika, menjelaskan bahwa banyak masyarakat masih mengandalkan pesangon atau manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan sebagai sumber dana pensiun utama.

Padahal, menurutnya, dana tersebut kerap habis dalam beberapa tahun pertama setelah seseorang memasuki masa pensiun sehingga tidak cukup untuk menopang kebutuhan hidup jangka panjang.

Inflasi Diam-Diam Mengurangi Nilai Dana Pensiun

Selain keterbatasan dana pensiun, inflasi menjadi faktor lain yang sering diabaikan dalam perencanaan keuangan masa tua.

Sebagai ilustrasi, biaya hidup sebesar Rp10 juta per bulan saat ini dapat meningkat mendekati Rp16 juta dalam kurun waktu 10 tahun apabila inflasi rata-rata berada di kisaran 5 persen per tahun.

Kondisi tersebut semakin berat karena kebutuhan kesehatan umumnya meningkat seiring bertambahnya usia. Pengobatan penyakit kronis hingga perawatan medis tertentu dapat menimbulkan biaya yang sangat besar dan menguras tabungan pensiun.

Banyak Lansia Masih Menanggung Beban Keluarga

Tekanan finansial juga muncul karena sebagian lansia masih membantu kebutuhan ekonomi anak dan cucu. Tidak sedikit orang tua yang tetap membiayai pendidikan cucu, membantu cicilan rumah anak, atau menjadi penopang keuangan keluarga meskipun sudah tidak lagi memiliki penghasilan aktif.

Akibatnya, dana yang seharusnya digunakan untuk masa pensiun terkuras lebih cepat dari perencanaan awal.

Karena itu, para ahli menyarankan agar lansia memiliki batas yang jelas dalam memberikan bantuan finansial kepada anggota keluarga demi menjaga keberlangsungan dana pensiun.

Gaya Hidup Setelah Pensiun Perlu Disesuaikan

Perencana keuangan independen Andy Nugroho menilai tekanan keuangan di usia senja juga dipengaruhi oleh kegagalan menyesuaikan gaya hidup setelah pensiun.

Menurutnya, pengeluaran yang tetap tinggi sementara pendapatan berkurang akan membuat kondisi keuangan menjadi tidak seimbang.

Andy menyarankan masyarakat mulai menyiapkan dana pensiun dan investasi sejak usia produktif agar memiliki cadangan keuangan yang cukup ketika memasuki masa purnatugas.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepesertaan BPJS Kesehatan agar risiko biaya kesehatan di masa tua dapat diminimalkan.

Salah Hitung Inflasi Bisa Bikin Dana Pensiun Cepat Habis

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, mengungkapkan bahwa salah satu kesalahan terbesar dalam perencanaan pensiun adalah tidak memasukkan faktor inflasi dalam perhitungan kebutuhan masa depan.

Menurutnya, meskipun inflasi nasional rata-rata berkisar 3 hingga 4 persen per tahun, kenaikan biaya kesehatan dan pendidikan sering kali lebih tinggi dari angka tersebut.

Akumulasi inflasi dalam jangka panjang menyebabkan nilai riil uang terus menurun sehingga dana pensiun yang terlihat besar saat ini belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa tahun mendatang.

Terapkan Aturan Penarikan Dana 4 Persen

Untuk menjaga keberlangsungan dana pensiun, Mike merekomendasikan penerapan aturan penarikan maksimal 4 persen per tahun dari total dana yang dimiliki.

Dengan cara tersebut, sebagian besar dana tetap dapat diinvestasikan sehingga berpotensi menghasilkan imbal hasil yang mampu mengimbangi inflasi.

Selain itu, ia menyarankan lansia mengombinasikan berbagai instrumen investasi sesuai usia dan profil risiko, seperti deposito, obligasi, sukuk, reksa dana, hingga saham yang memberikan dividen.

Diversifikasi Pendapatan Jadi Kunci

Para ahli juga menilai pentingnya memiliki beberapa sumber pendapatan pasif selama masa pensiun. Pendapatan dapat berasal dari properti sewa, dividen saham, kupon obligasi, sukuk, maupun bunga deposito.

Diversifikasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan arus kas yang stabil tanpa harus mengurangi pokok dana pensiun.

Di samping itu, lansia dianjurkan melunasi seluruh utang sebelum memasuki masa pensiun agar tidak terbebani cicilan ketika pendapatan aktif sudah berhenti.

Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan investasi yang tepat, serta penyesuaian gaya hidup, para lansia dapat menjaga kondisi keuangan tetap sehat dan menikmati masa pensiun dengan lebih tenang serta sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *