Example 728x250
Kesehatan

Perasaan Sensitif pada Lansia, Apakah Hal yang Wajar?

459
×

Perasaan Sensitif pada Lansia, Apakah Hal yang Wajar?

Sebarkan artikel ini
Perasaan Sensitif pada Lansia
seorang lansia muslim sedang duduk termenung di taman

Golansia.com – Tidak jarang orang lanjut usia (lansia) menunjukkan sikap lebih sensitif, mudah tersinggung, marah, atau sedih. Kondisi ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga, terutama jika muncul kecenderungan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Dosen Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), dr. Erikavitri Yulianti, Sp.KJ, Subsp. Ger (K), menjelaskan bahwa penting memberikan edukasi terkait gejala umum dan memastikan diagnosis melalui ahli. Hal ini untuk membedakan apakah perubahan emosi tersebut masih tergolong normal atau sudah mengarah pada gangguan kejiwaan.

Menurutnya, faktor utama yang membuat lansia lebih sensitif biasanya berkaitan dengan perubahan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun. Situasi ini kerap menimbulkan perasaan kehilangan kendali atas tubuh sendiri dan berujung pada frustrasi.

Selain itu, melemahnya fungsi otak dan sistem saraf juga berdampak pada penurunan kemampuan kognitif, seperti mengingat atau berbahasa, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kontrol emosi lansia.

“Terjadinya tahap baru kehidupan seperti pensiun, kehilangan rutinitas yang diikuti kemunduran fisiknya dan kehidupan sosial yang semakin terbatas menyebabkan lansia merasa tidak berdaya apabila dibantu, namun apabila tidak dibantu akan merasa diabaikan. Sehingga akan cukup menantang bagi keluarga dalam memahami emosi lansia,” ungkapnya, Selasa (29/7/2025).

Erika juga menyebut, perubahan pola tidur pada lansia yang semakin pendek dan terputus-putus secara alami menyebabkan lansia kurang tidur sehingga dapat memengaruhi emosinya.

“Dampak dari perasaan sensitif ini dapat meningkatkan risiko cemas dan depresi, penurunan hubungan sosial dan kemungkinan lansia mengisolasi diri,” tuturnya.

Selain itu, efek samping beberapa obat untuk penyakit degeneratif yang banyak diderita lansia dapat memberikan rasa ketidaknyamanan di fisik sehingga mempengaruhi emosi.

“Selain itu, dampak lainnya yaitu menurunnya minat lansia dalam melakukan aktivitas sehari-sehari sehingga lansia akan lebih banyak berdiam diri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa untuk memahami kondisi emosional lansia diperlukan diagnosis melalui wawancara klinis serta observasi dengan teknik yang tepat. Komunikasi yang baik sangat penting agar lansia merasa nyaman saat menyampaikan perasaannya.

“Setelah itu, psikiater dapat melakukan penilaian psikometri menggunakan beberapa instrumen guna mencocokkan pernyataan lansia dengan kondisi sebenarnya. Dari situ bisa ditentukan apakah masih tergolong normal atau sudah mengarah pada depresi maupun gangguan kecemasan,” jelasnya.

Dengan demikian, psikiater dapat mengetahui adanya perubahan pola perilaku seperti pola tidur, perubahan nafsu makan, dan penurunan aktivitas harian.

“Terapinya dapat dilakukan tanpa pemberian obat, namun apabila tidak efektif maka dapat diberikan obat sesuai dengan resep dokter,” ucapnya.

Erika menyebut pentingnya peran keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan sosial, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia dan keluarga.

“Keluarga harus jeli melihat perbedaan perasaan sensitif normal yang frekuensinya sesekali dengan perasaan sensitif yang tidak normal apabila terjadi secara terus menerus tanpa penyebab yang jelas,” ucapnya.

Menurutnya, keluarga perlu mendukung lansia untuk bersosialisasi, menjaga komunikasi, meningkatkan kemandirian dan memantau kondisi kesehatan mental lansia.

“Apabila terdapat perubahan sikap sosial, tidak bisa bersosialisasi, insomnia, hilang minat, putus asa hingga halusinasi segera konsultasikan pada psikiater,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *