Example 728x250
Berita

Mengapa Pasien Kritis Bisa Tiba-tiba Pulih Sebelum Meninggal? Ini Penjelasan Medisnya

1106
×

Mengapa Pasien Kritis Bisa Tiba-tiba Pulih Sebelum Meninggal? Ini Penjelasan Medisnya

Sebarkan artikel ini
Patient unconscious in the intensive care units (foto istimewa)

Golansia.com — Julie McFadden, seorang perawat layanan hospice di California, Amerika Serikat, mengungkapkan fenomena unik yang sering menjadi perbincangan. Fenomena ini menggambarkan pasien sakit parah yang tiba-tiba terlihat pulih sebelum akhirnya meninggal dunia. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah terminal lucidity.

Menurut McFadden, terminal lucidity terjadi ketika pasien yang sebelumnya tampak lemah mendadak mengalami ledakan energi, kejernihan mental, dan kewaspadaan. Dalam kondisi ini, pasien bisa menunjukkan peningkatan daya ingat, fungsi kognitif, atau bahkan bangkit dari tempat tidur. Mereka juga mungkin terlihat lebih ceria atau mengalami perubahan suasana hati yang positif.

Namun, hanya dalam hitungan hari atau bahkan beberapa jam setelahnya, pasien biasanya akan meninggal dunia. Meski momen ini memberikan harapan, McFadden mengingatkan bahwa kondisi ini bukan berarti pasien benar-benar sembuh.

“Bagian yang sulit adalah menikmatinya saat hal itu terjadi dan mengetahui bahwa mereka kemungkinan akan meninggal tak lama setelahnya,” ujar McFadden dalam wawancaranya yang dikutip dari Daily Mail, Rabu (1/1/2025).

McFadden menambahkan, terminal lucidity adalah fenomena yang cukup umum terjadi pada pasien yang berada di akhir hidupnya, khususnya selama ia bekerja di layanan hospice. Hospice sendiri merupakan perawatan khusus yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius atau dalam tahap akhir kehidupan.

Pada momen terminal lucidity, pasien bisa tampak benar-benar sehat, bahkan ada yang meminta makanan favorit mereka. Perubahan ini biasanya hanya berlangsung beberapa jam hingga satu atau dua hari. Diperkirakan, satu dari tiga orang yang sekarat mengalami fenomena ini sebelum meninggal dunia.

Hingga kini, para ahli belum sepenuhnya memahami penyebab terminal lucidity. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien yang sekarat mungkin mengalami lonjakan aktivitas otak atau neurotransmitter terkait stres, yang memberikan aliran energi terakhir bagi tubuh.

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu mengungkapkan bahwa otak yang kekurangan oksigen pada tahap akhir kehidupan mungkin mengalami peningkatan aktivitas gelombang gamma. Gelombang gamma ini merupakan gelombang otak tercepat yang biasanya terjadi saat seseorang sangat waspada dan memproses informasi sensorik.

Selain itu, para ahli percaya otak melepaskan neurotransmitter seperti serotonin dalam jumlah besar sebelum kematian, yang dapat memberikan perasaan bahagia atau suasana hati yang lebih baik.

“Tidak ada yang terbukti secara ilmiah atau dipelajari untuk memberi tahu kita secara pasti mengapa hal itu terjadi. Cobalah untuk tetap hadir di saat orang yang Anda kasihi mengalami hari yang sangat baik. Anggaplah itu sebagai berkat, hampir seperti hadiah yang diberikan orang yang Anda kasihi kepada Anda,” tutup McFadden.(DBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *