Example 728x250
Daftar Penyakit

5 Ciri Demensia pada Lansia yang Perlu Diwaspadai

524
×

5 Ciri Demensia pada Lansia yang Perlu Diwaspadai

Sebarkan artikel ini
Demensia pada Lansia yang Perlu Diwaspadai
lansia yang terkena Demensia

Golansia.com – Kekhawatiran anak terhadap kesehatan orangtua yang mulai menua adalah hal yang wajar. Salah satu kondisi yang paling ditakuti adalah demensia, gangguan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, perilaku, hingga kemampuan berpikir.

Sering kali, gejala awal demensia tampak sepele, seperti lupa meletakkan barang atau perubahan sikap yang dianggap biasa karena faktor usia. Padahal, mengenali ciri-ciri demensia sejak dini sangat penting agar orangtua bisa segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Berikut beberapa tanda umum yang bisa menjadi indikasi demensia pada lansia:

1. Gangguan daya ingat

Spesialis Geriatri, dr. Czeresna Heriawan Soedjono, menegaskan bahwa tanda paling mudah dikenali dari demensia adalah mudah lupa.

“Pikun bisa disebut demensia jika lupa-lupa itu sudah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com baru-baru ini.

Lansia yang mengalami demensia umumnya kerap lupa banyak hal. Mulai dari melupakan janji yang dibuat, lupa kejadian yang baru saja dialami, hingga tidak mengenali anggota keluarganya sendiri.

Kadang, penderita juga lupa dengan apa yang baru saja dikatakannya. Akibatnya, mereka sering mengulang-ulang perkataan atau pertanyaan yang sama tanpa menyadari sudah pernah menyampaikannya.

2. Disorientasi

Selain mudah lupa, gejala lain yang sering dialami penderita demensia adalah disorientasi terhadap waktu dan tempat.

Dilansir dari Yayasan Alzheimer Indonesia, kondisi ini membuat lansia kerap bingung menentukan lokasi maupun arah. Mereka bisa tiba-tiba tidak tahu sedang berada di mana, kesulitan menemukan jalan pulang, atau bahkan kehilangan orientasi mengenai waktu, seperti hari, tanggal, maupun jam.

Kebingungan ini sering kali membuat keluarga khawatir karena berisiko membahayakan keselamatan lansia jika dibiarkan tanpa pengawasan.

3. Sulit melakukan kegiatan yang familiar

Gejala lain demensia yang sering muncul pada lansia adalah kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya sudah sangat familiar.

Spesialis Geriatri, dr. Czeresna Heriawan Soedjono, menjelaskan bahwa penderita demensia bisa tiba-tiba kehilangan kemampuan dalam hal-hal yang dulu dikuasai dengan baik. Misalnya, tidak lagi mampu menggunakan telepon seluler atau lupa cara mengoperasikan remote televisi.

Bahkan, aktivitas rutin seperti shalat pun bisa terganggu. “Shalat yang dilakukan lima kali sehari selama bertahun-tahun, bisa tiba-tiba lupa bacaan, surat, atau urutan gerakannya,” jelas Czeresna.

Fenomena hilangnya kebiasaan ini patut diwaspadai, karena menunjukkan adanya gangguan daya ingat serius yang khas pada demensia.

4. Perubahan perilaku

Demensia pada lansia tidak hanya ditandai dengan masalah daya ingat, tetapi juga dapat terlihat dari perubahan perilaku yang drastis.

Lansia yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba menjadi mudah marah, cepat bingung, depresi, sensitif, hingga berperilaku kasar.

“Kadang mereka melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, berperilaku aneh, bahkan sampai menampar,” ungkap dr. Czeresna Heriawan Soedjono.

Perubahan kepribadian ini sering kali membuat keluarga kaget, namun perlu dipahami sebagai bagian dari gejala medis yang harus ditangani dengan tepat.

5. Menarik diri dari pergaulan

Gejala lain yang kerap muncul pada penderita demensia adalah menarik diri dari aktivitas sosial. Lansia yang sebelumnya aktif berinteraksi dengan tetangga atau rutin mengikuti kegiatan bersama, bisa tiba-tiba berubah menjadi pasif dan lebih memilih menyendiri di rumah.

“Dia tiba-tiba menarik diri dari pergaulan. Misalnya, malas ikut senam lingkungan bersama tetangga, atau menolak kegiatan yang dulu biasa dilakukan,” jelas dr. Czeresna Heriawan Soedjono.

Perubahan sikap ini menjadi sinyal penting bagi keluarga untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental dan otak orangtua. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang penanganan yang tepat dapat diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *