DR. AbidinKesehatan

Program MBG momentum Emas Potensi Nasional Harus Kolaborasi

773
Program MBG momentum Emas Potensi Nasional
Program MBG momentum Emas Potensi Nasional

Oleh: Dr. Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes Ketua Umum BPP Observasi Kesehatan Indonesia (OBKESINDO)/Indonesia Health Observer (IHO)

Golansia.com – Pada September 2025 ini, ada meme “6.452 Anak Jadi Korban #Stop MBG”.Tentu meme ini dibaca sebagai sinyal kewaspadaan, walaupun terkesan berlebihan. Bayangkan jika dibandingkan akibat asap rokok, kini Indonesia menjadi Negara dengan kasus Penyakit Tuberkulosa (TB) terbesar kedua didunia dibawah India dan diatas China yang penduduknya masing-masing diatas 1,4 milyar jiwa. Dengan kematian mencapai 134.000 orang pertahun. Atau dibandingkan dengan kasus terinfeksi HIV/Aids ditahun 2023 sebanyak 17.121 orang. Dan kematiannya di Kalimantan Timur saja tahun 2024 sebanyak 132 kasus.  Lebih masuk diakal sehat jika ada kampanye #Stop Merokok Diarea Umum atau #Stop Aktivitas Beresiko HIV/Aids. Kesehatan Indonesia sedang dalam anomali kontradiktif dan inkonsistensi, bukan transformasi, yang masih sangat jauh. Prevalensi berbagai penyakit menakutkan dan mematikan tidak seimbang dengan kampanye hidup sehat yang semakin sayup dibanding kuratif. MBG atau Makan Bergizi Gratis dengan sasaran 89,2 juta penerima manfaat sungguh intervensi efektif dengan multiplier efek yang luas dan mendasar.

Beres dalam urusan makan bergizi, jelas akan mengubah wajah dan wujud sumberdaya manusia Indonesia kedepannya, Diikuti dengan penurunan angka kesakitan, peningkatan angka kecerdasan dan penurunan penyimpangan sosial. Melihat data-data Indeks Pertumbuhan Manusia Indonesia yang masih rendah, baik dibidang Pendidikan, Pemerataan ekonomi dan Kesehatan, menunjukkan adanya keterkaitan dan ketergantungan satusama lain yang kuncinya pada keterbatasan dalam ketersediaan pangan dihampir seluruh wilayah Indonesia.

Gagasan Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif strategis dan mendasar untuk menjawab perbaikan Indeks Pertumbuhan Manusia (Human Development Index) Indonesia, yang bahkan dimulai dengan penurunan angka stunting (yang macet karena kegagalan intervensi pangan dan edukasi), peningkatan Kesehatan ibu hamil dan ibu menyusui yang banyak mengalami anemia berat karena kekurangan gizi. Perbaikan dihulu, jelas akan menjamin pertumbuhan fisik janin dan anak berlangsung baik disamping perkembangan kognitif atau kecerdasan.

KERACUNAN MAKANAN MBG

Pada Sidang Kabinet 5 Mei 2025, Presiden telah menerima laporan pencapaian sasaran penerima manfaat sebanyak 3,4 juta orang dengan 1.286 penyedia/dapur pangan. Dengan harapan diakhir Agustus mencapai 20 juta sasaran penerima manfaat dan pada akhir November tahun 2025 mencapai 82,9 juta penerima manfaat.  Namun Presiden menekankan bahwa skala dan kompleksitas logistik program ini sangat besar, sekalipun tingkat keberhasilan mencapai angka 99 persen.

Program sudah berjalan sejak Januari 2025, dan kini dibulan September dengan sasaran sudah menjangkau 20 juta orang. Pada Januari tahun 2025 saat program MBG masih menjangkau 2 juta sasaran sudah dilaporkan keracunan pada 50 siswa SDN Dukuh 03 Sukohardjo. Dibulan Februari terjadi keracunan pada 28 siswa SDN 2 Alaswangi Pandeglang, Hingga kini, September diperhitungkan terdapat 6.000 anak mengalami keracunan MBG dari sekitar 20 juta penerima manfaat.

Dalam keterangan pers Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengakui insiden keracunan MBG bukan sabotase, melainkan kelalaian internal, dari dapur yang masak malam hingga pengawasan yang abai. Dan tentu masih banyak pendapat lain,   Banyak diberitakan, anak-anak muntah di kelas, guru panik tanpa pelatihan, dan ibu-ibu yang memilih diam karena takut dianggap tak bersyukur. Kelalaian itu bukan sekadar teknis, tapi menyentuh tubuh, waktu, dan kepercayaan warga yang paling rentan.

STOP MBG ATAU LANJUT

Permintaan sebahagian sumber yang minta STOP MBG, terlalu dini dan sebahagian mengatakan berbau politis.  Disini moral bangsa digugat, mau sampai kapan lagi dimulai terobosan berani. Terobosan mana akan mendorong perubahan ekosistem pangan dan kemajuan sumberdaya manusia Indonesia.

Kualitas manusia Indonesia hanya akan bergerak merangkak, tanpa terobosan berani. Kita tidak mungkin hidup sehat, dengan bergantung pada import beras. Dengan angka konsumsi makan ikan paling rendah di Asia, sementara Indonesia punya lautan paling luas dan ikan terbanyak didunia, yang kaya aneka ikan sebagai sumber protein yang merupakan modal awal menumbuhkan kecerdasan setiap anak bangsa. Begitu pula dalam konsumsi daging, yang hanya 0,45 Kg perorang pertahun, yang menurun dari tahun 2023 yaitu 0,5 Kg dibanding dengan rata-rata konsumsi dunia 6,4 Kg/orang/tahun.

Semua menunjukkan kita dalam kerawanan pangan. Dan itu bermakna sebahagian terbesar penduduk negeri ini dalam kondisi kurang gizi dan nutrisi yang seimbang. Dan itu bermakna rakyat Indonesia umumnya dalam ancaman rendah kualitas kesehatan dan rendah kualitas pendidikannya.

Tidak mengherankan, Ketika Menteri Kesehatan RI mengumumkan pencapaian penurunan angka Stunting tahun 2023 hanya turun 0,1% dari 25,6 menjadi 25,5 diawal tahun 2024. Sementara target Pemerintah menurunkan menjadi 14% pada akhir tahun 2024. Boleh jadi salah satu penyebabnya adalah ketiadaan sumber pangan adekuat dan bergizi.

Program MBG, saat ini sudah menyajikan 20 juta porsi perhari. Sebulan dengan 20 hari belajar menyajikan 400 juta porsi. Kegiatan sudah berjalan 10 bulan, artinya 4.000.000.000 porsi. Dalam proses yang berjalan bertahap, Ditemukan pengaduan atas kasus keracunan yang secara kumulatif sekitar 6.000 kasus yang terjadi di beberapa tempat dari sebahagian dapur yang kapasitasnya mencapai 3.000an porsi.

Bisa dibayangkan saat jelang akhir tahun 2025, MBG harus mampu menyediakan 89.200.000 porsi perhari atau 1.784.000.000 porsi (1,7 Milyar) sebulannya. Sejak januari 2026 jika konsisten maka setahunnya perlu disiapkan 21,4 milyar porsi untuk anak Indonesia. Sungguh program luarbiasa, dengan menu sehat, terhidang bersih dan bergizi.

Didalam porsi makanan itu ada peluang untuk memutus rantai stunting (pada usia sekolah), pertumbuhan fisik yang baik, juga meningkatkan konsentrasi belajar dan menciptakan generasi cerdas. Apa yang salah dengan program mulia dan nyata manfaatnya ini, mengapa harus dihentikan?.

KEBERANIAN MBG DAN MBG YANG BERANI

Adalah salah besar menganggap Program MBG berhenti hanya pada ketercukupan gizi. Atau karena ada sejumlah kasus keracunan, maka Program dihentikan. Program MBG memiliki multiplier effect atau efek pengganda.  Penerima manfaat terbesar ada pada Kesehatan para penerima manfaat yang nantinya berjumlah 89,2 juta orang. Mulai dari perbaikan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, imunitas kesehatan, peningkatan energi, peningkatan kualitas otak, perbaikan berat badan, dan tentu peningkatan kualitas hidup.

Diluar Kesehatan, pengeluaran besar Pemerintah dalam Program MBG tidak sia-sia, belanja MBG akan meningkatkan pendapatan Masyarakat, meningkatkan konsumsi dan investasi dan tentu pertumbuhan ekonomi. Investasi akan mendorong pula produksi dari semua sumber material kebutuhan Program MBG, disamping lapangan kerja baru. Dan lebih tinggi lagi, Program MBG juga memiliki efek langsung terhadap kualitas Generasi Muda Indonesia, peningkatan angka keterdidikan, penurunan angka kesakitan dan peningkatan Indeks Pertumbuhan Manusia Indonesia.

Exit mobile version