BeritaKesehatan

Nyeri Punggung seperti Ditusuk, Pasien Super Flu Ungkap Gejala Mengerikan yang Dialami

260
Ilustrasi istimewa

Golansia.com — Kasus infeksi influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal sebagai “super flu” kian menjadi perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya menyebar cepat, tetapi juga menimbulkan gejala berat yang dialami langsung oleh para penderitanya.

Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga akhir Desember 2025, tercatat terdapat 62 kasus super flu di Indonesia. Sebaran terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara lain. Amerika Serikat (AS), misalnya, dilaporkan terdampak cukup parah. Sejak Oktober 2025, setidaknya 7,5 juta orang di AS jatuh sakit akibat super flu. Inggris dan sejumlah negara lainnya pun melaporkan peningkatan kasus serupa.

Salah satu pengalaman pasien datang dari Hillsborough, Sheffield, Inggris. Michaela Knapp (52) mengalami kondisi berat akibat super flu pada Desember 2025 hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Awalnya, Knapp dan putranya yang berusia 17 tahun mulai merasa tidak sehat pada awal Desember. Kondisinya kemudian memburuk dan sempat disangka sebagai infeksi Covid-19.

“Pada Kamis (4/12/2025), saya mulai merasa sakit tenggorokan. Tapi pada Minggu (7/12/2025) malam, saya mulai merasa sangat tidak nyaman di punggung bawah,” kata Knapp, dikutip BBC, Jumat (12/12/2025).

Keesokan harinya, rasa nyeri tersebut semakin parah dan disertai gangguan pernapasan.

“Pada Senin (8/12/2025), saya mengalami nyeri hebat dan pernapasan sangat buruk,” sambungnya.

Knapp menggambarkan nyeri di punggung bawahnya seperti ditusuk pisau es, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Kondisi tersebut membuatnya segera menghubungi layanan darurat kesehatan 111 di Inggris.

Petugas menyarankan putranya untuk tetap di rumah dengan mengonsumsi cairan dan obat pereda nyeri. Sementara itu, Knapp dikirim ambulans ke Rumah Sakit Umum Utara Sheffield.

“Ambulans tiba sekitar 30 menit kemudian. Petugas medis melakukan pemeriksaan jantung, memeriksa dada saya, dan mengatakan saya harus dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD),” jelasnya.

“Petugas medis lalu melakukan berbagai tes lagi. Suhu tubuh saya 39,6 derajat, dan pernapasan jelas terganggu,” ujar Knapp.

Setibanya di rumah sakit, rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya berteriak. Ia segera diberikan obat pereda nyeri dan ditempatkan di brankar sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah menjalani perawatan selama 12 jam di brankar, Knapp akhirnya dirawat di kamar rawat inap.

 

Perjalanan pemulihan

Kondisi Knapp berangsur membaik. Lima hari kemudian, ia diperbolehkan pulang, meski masih merasakan kelelahan yang cukup berat. Putranya, di sisi lain, telah pulih sepenuhnya.

Menariknya, Knapp mengaku sudah menerima vaksin flu sebelumnya. Namun, karena infeksi disebabkan oleh strain baru, serangan yang dialaminya tetap tergolong berat hingga memengaruhi pernapasan.

“Saya didiagnosis menderita asma sekitar 35 tahun lalu, tapi sebelumnya tidak pernah mengalami serangan serius. Jadi ini cukup menakutkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Saya bukan orang tua dan biasanya sehat serta bugar. Jadi, betapa sakitnya saya cukup mengejutkan.”

Kasus yang dialami Michaela Knapp menjadi pengingat bahwa super flu dapat menyerang siapa saja, termasuk individu yang sehat dan telah divaksin. Penyebaran strain baru ini pun menuntut kewaspadaan lebih dari masyarakat dan tenaga medis.

Sumber: Kompas

Exit mobile version