Internasional

Bukan Mau Terbang, Lansia Korea Selatan Ramai-Ramai “Ngadem” di Bandara Saat Suhu Tembus 40°C

152
Lansia Korea Selatan duduk di terminal bandara saat gelombang panas ekstrem
Sejumlah lansia Korea Selatan memilih beristirahat di terminal bandara untuk mencari kesejukan saat suhu luar ruangan mencapai sekitar 40°C.

Golansia.com – Apa yang biasanya dilakukan orang ketika cuaca mencapai 40 derajat Celsius? Bagi sejumlah warga lanjut usia (lansia) di Korea Selatan, jawabannya ternyata cukup unik: pergi ke bandara.

Bandara Internasional Incheon dan Bandara Internasional Gimpo kini dimanfaatkan sebagian lansia sebagai tempat mencari kesejukan di tengah gelombang panas yang melanda Korea Selatan.

Mereka datang bukan untuk mengejar penerbangan. Sebagian hanya duduk santai, memejamkan mata, berbincang dengan teman, atau menonton televisi sembari menikmati ruangan berpendingin udara.

Pemandangan ini menjadi semakin menarik karena sejumlah lansia bahkan menghabiskan waktu berjam-jam di terminal.

Duduk Berjam-jam di Bandara, Bukan Menunggu Pesawat

Di Terminal 2 Bandara Internasional Incheon, sejumlah lansia terlihat menempati kursi-kursi yang tersedia.

Ada yang duduk sendirian dengan mata terpejam. Ada pula yang datang bersama teman dan berbincang dalam kelompok kecil.

Sementara itu, sebagian lainnya hanya memperhatikan aktivitas penumpang yang berlalu-lalang.

Situasi serupa terlihat di Bandara Internasional Gimpo. Kursi yang menghadap televisi dipenuhi warga lansia yang memilih menghabiskan waktu di dalam ruangan berpendingin.

Bagi warga yang tinggal di bagian barat Seoul dan daerah sekitarnya, Gimpo bahkan menjadi pilihan yang lebih praktis karena lokasinya lebih dekat dibandingkan Incheon.

Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat mencari cara menghadapi cuaca panas yang semakin ekstrem.

Ada Alasan Mengapa Bandara Jadi Pilihan

Bandara memiliki satu keunggulan yang sangat dibutuhkan ketika suhu luar ruangan melonjak: ruang luas dengan pendingin udara yang menyala sepanjang hari.

Di terminal Incheon, suhu ruangan dijaga sekitar 24 derajat Celsius.

Bagi lansia yang merasa kepanasan di rumah, suasana tersebut tentu terasa jauh lebih nyaman.

Seorang perempuan berusia 70-an yang tinggal di wilayah barat Seoul mengatakan dirinya kerap pergi ke bandara ketika panas terasa terlalu menyengat.

Ia memilih menggunakan kereta bawah tanah untuk mencapai lokasi tersebut.

Yang membuat perjalanan semakin mudah, warga Korea Selatan berusia 65 tahun ke atas mendapatkan pembebasan tarif kereta bawah tanah dalam sistem transportasi tertentu.

Dengan begitu, mereka bisa pergi ke bandara tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan seperti penumpang pada umumnya.

Jumlah Penumpang Lansia ke Bandara Ikut Melonjak

Data Airport Railroad menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengguna berusia lanjut.

Pada Juli 2026, jumlah penumpang berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 1,65 juta orang.

Angka tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan Juli 2025 dan lebih dari 20 persen dibandingkan Juli 2024.

Data itu memang tidak secara khusus menunjukkan bahwa seluruh lansia tersebut datang ke bandara untuk menghindari panas.

Namun, peningkatan tersebut terjadi bersamaan dengan periode gelombang panas berkepanjangan di Korea Selatan.

Bandara pun menjadi salah satu fasilitas publik yang dapat digunakan warga untuk mencari tempat yang sejuk dan nyaman.

Tak Dilarang Beristirahat di Terminal

Menariknya, keberadaan lansia yang hanya duduk dan beristirahat di terminal tidak dianggap sebagai pelanggaran.

Pihak Incheon International Airport Corporation menyatakan tidak ada dasar hukum untuk meminta lansia meninggalkan fasilitas umum hanya karena mereka datang untuk beristirahat.

Selama tidak mengganggu operasional dan mematuhi aturan yang berlaku, mereka dapat menggunakan area publik yang tersedia.

Kondisi ini memperlihatkan fungsi lain dari sebuah bandara yang jarang terlihat.

Tempat yang dirancang untuk perjalanan udara tersebut secara tidak langsung berubah menjadi ruang publik yang menawarkan perlindungan dari cuaca ekstrem.

Suhu Seoul Tembus 40°C

Fenomena tersebut tidak muncul tanpa alasan.

Korea Selatan tengah menghadapi musim panas yang sangat menyengat. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, suhu di sejumlah bagian Seoul dilaporkan menembus 40 derajat Celsius.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena suhu setinggi itu di Seoul terjadi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.

Badan Meteorologi Korea juga telah mengeluarkan peringatan terkait cuaca panas ekstrem di sejumlah wilayah.

Gelombang panas berkepanjangan membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap suhu tinggi.

Lansia Lebih Perlu Waspada Saat Cuaca Ekstrem

Bagi kelompok lansia, cuaca panas bukan sekadar persoalan rasa tidak nyaman.

Kemampuan tubuh dalam mengatur suhu dapat berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, paparan panas ekstrem perlu dihadapi dengan lebih hati-hati.

Menjaga kecukupan cairan, menghindari aktivitas berat saat suhu sedang tinggi, serta mencari tempat sejuk merupakan beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko akibat panas.

Dalam konteks inilah keberadaan ruang publik berpendingin menjadi semakin penting.

Bandara Incheon dan Gimpo mungkin tidak pernah dirancang sebagai tempat “ngadem” bagi lansia.

Namun, ketika suhu luar ruangan mendekati atau bahkan menembus 40°C, fasilitas seperti itu bisa menjadi tempat yang sangat berarti.

Bukan Sekadar Fenomena Unik

Sekilas, pemandangan lansia duduk santai di bandara mungkin terlihat lucu atau tidak biasa.

Namun, fenomena tersebut menyimpan cerita yang lebih besar.

Korea Selatan menghadapi dua tantangan sekaligus: populasi yang semakin menua dan cuaca ekstrem yang semakin menjadi perhatian.

Ketika rumah tidak lagi terasa nyaman akibat panas, sementara fasilitas publik menyediakan ruangan sejuk yang mudah dijangkau, sebagian lansia memilih memanfaatkannya.

Bandara akhirnya bukan hanya menjadi tempat pesawat datang dan pergi.

Bagi sebagian lansia Korea Selatan, terminal bandara untuk sementara berubah menjadi tempat berlindung dari panas.

Dan mungkin, fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan iklim dan meningkatnya jumlah penduduk lansia, kota-kota masa depan tidak cukup hanya menyediakan tempat tinggal.

Masyarakat juga membutuhkan ruang publik yang aman, sejuk, mudah dijangkau, dan ramah bagi lansia.

Exit mobile version