Golansia.com — Rasa lelah, mual, hingga nyeri ringan di perut kerap dianggap sebagai gejala masuk angin atau gangguan pencernaan biasa. Padahal, keluhan tersebut juga dapat menjadi tanda awal penyakit liver yang sering luput dikenali. Karena itu, mengenali gejalanya sejak dini penting dilakukan agar kerusakan hati dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih berat.
Liver atau hati merupakan organ vital yang berperan menyaring racun dalam darah, mengolah nutrisi, serta membantu tubuh melawan infeksi. Ketika organ ini mengalami kerusakan, berbagai fungsi penting tersebut tidak dapat berjalan secara optimal.
Penyakit liver merupakan istilah umum untuk berbagai kondisi yang menyebabkan kerusakan pada hati dan mengganggu fungsinya. Menurut dokter spesialis gastroenterologi di Hackensack Meridian Health Center, dr Douglas Weine, penyakit liver mencakup berbagai kondisi yang memengaruhi fungsi normal hati, mulai dari penyakit hati berlemak nonalkohol (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD), hepatitis, hingga kanker hati.
Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Ada penyakit liver yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun, tetapi ada pula yang muncul lebih cepat.
Sebagian jenis penyakit liver dapat diobati, bahkan dipulihkan apabila terdeteksi sejak dini. Namun, ada juga yang bersifat kronis sehingga memerlukan penanganan dan pemantauan jangka panjang. Pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab serta tingkat kerusakan hati yang dialami pasien.
Penyebab penyakit liver
Dikutip dari Penn Medicine, penyakit liver dapat terjadi karena berbagai faktor. Sebagian penyebab bersifat sementara dan dapat dipulihkan, sementara lainnya dapat menimbulkan kerusakan permanen jika tidak ditangani.
Salah satu penyebab yang paling umum adalah konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang. Kebiasaan ini dapat merusak sel-sel hati dan memicu penyakit hati akibat alkohol (alcoholic liver disease).
Sementara itu, pada orang yang jarang atau tidak mengonsumsi alkohol, penyakit hati berlemak nonalkohol (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD) dapat terjadi akibat penumpukan lemak berlebih di hati. Kondisi ini sering dikaitkan dengan obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik.
Penyakit liver juga dapat dipicu oleh gangguan autoimun maupun kelainan genetik. Misalnya, primary biliary cirrhosis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang saluran empedu kecil di dalam hati. Selain itu, kelainan bawaan seperti penyakit Wilson atau defisiensi alpha-1 antitripsin dapat menyebabkan penumpukan zat beracun yang merusak sel-sel hati.
Penyebab lainnya meliputi paparan obat-obatan atau zat beracun, misalnya mengonsumsi acetaminophen (parasetamol) dalam dosis berlebihan atau terpapar suplemen herbal tertentu maupun bahan kimia industri yang dapat merusak hati.
Apabila berlangsung dalam jangka panjang, berbagai penyebab tersebut dapat berkembang menjadi sirosis, yaitu kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan dan digantikan oleh jaringan parut. Dalam beberapa kasus, perubahan jaringan dan sel hati akibat sirosis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hati.
Lima gejala awal yang sering disangka masuk angin
Pada tahap awal, penyakit liver sering berkembang perlahan sehingga gejalanya cenderung ringan dan tidak spesifik. Bahkan, sebagian di antaranya kerap disalahartikan sebagai masuk angin atau kelelahan biasa.
Dikutip dari Gastroenterology Consultants of San Antonio, gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi:
1. Mudah lelah
Penderita penyakit hati dapat mengalami kelelahan atau kantuk berlebihan meski sudah tidur cukup.
2. Mual
Mual dan muntah yang sering muncul dapat menjadi respons tubuh terhadap penumpukan racun yang tidak lagi mampu dibersihkan hati.
3. Nyeri ringan pada perut kanan atas
Pembesaran hati (hepatomegali) dapat menimbulkan rasa nyeri, kembung, atau tidak nyaman, terutama di bagian kanan atas perut.
4. Menggigil
Kerusakan hati dapat memicu respons imun yang menyebabkan demam dan menggigil.
5. Kehilangan nafsu makan
Kondisi ini dapat berujung pada penurunan berat badan apabila berlangsung dalam waktu lama.
Gejala saat penyakit semakin berat
Seiring perkembangan penyakit, tanda-tanda gangguan hati menjadi lebih jelas.
1. Kulit dan bagian putih mata menguning
Menurut dokter spesialis hepatologi sekaligus asisten profesor di Yale School of Medicine, dr Bubu Banini, salah satu tanda paling khas penyakit liver adalah kulit atau bagian putih mata menguning (jaundice).
Kondisi ini terjadi akibat penumpukan bilirubin yang tidak dapat diproses dengan baik oleh hati. Apabila perubahan warna kulit atau mata muncul, penderita dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter.
2. Urine berwarna gelap meski cukup minum
Menurut dr Douglas Weine, urine yang berubah menjadi oranye tua, cokelat, atau kuning keemasan (amber) dapat disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Jika kondisi ini terjadi meski kebutuhan cairan telah tercukupi, sebaiknya tidak diabaikan.
3. Kebingungan atau perubahan kondisi mental
“Orang yang sebelumnya sehat dapat mengalami gagal hati akut yang ditandai dengan perubahan kondisi mental atau kepribadian, seperti disorientasi, kebingungan, atau mudah mengantuk,” ujar dr Bubu Banini.
Perubahan kondisi mental yang muncul mendadak memerlukan penanganan medis segera.
4. Pembengkakan pada tungkai, pergelangan kaki, atau perut
Menurut dr Douglas Weine, pembengkakan dapat terjadi akibat sirosis yang menghambat aliran darah ke hati dan menurunkan produksi albumin, sehingga cairan menumpuk di kaki (edema) maupun rongga perut (asites).
5. Mudah memar dan mengalami perdarahan
Kerusakan hati menyebabkan produksi protein pembekuan darah menurun. Akibatnya, penderita lebih mudah mengalami memar maupun perdarahan meski hanya mengalami cedera ringan.
Tahapan penyakit liver
Dikutip dari Health University of Utah, penyakit liver umumnya berkembang melalui empat tahap, yaitu:
1. Peradangan (inflamasi)
Hati mulai mengalami pembengkakan akibat cedera atau kerusakan. Pada tahap ini umumnya belum muncul gejala.
2. Fibrosis
Peradangan yang terus berlangsung menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Jika terdeteksi sejak dini, kondisi ini masih dapat ditangani.
3. Sirosis
Jaringan parut semakin luas sehingga fungsi hati mulai terganggu. Banyak penderita baru merasakan gejala pada tahap ini.
4. Gagal hati
Pada tahap paling berat, hati tidak lagi mampu menjalankan fungsinya. Dalam kondisi tertentu, transplantasi hati menjadi satu-satunya pilihan pengobatan.
