BerandaBeritaKesehatan

Infeksi Jamur Invasif Kian Mengintai: Lansia dan Pasien Kanker Jadi Kelompok Paling Rentan

201

Golansia.com — Bahaya infeksi jamur invasif ternyata menyimpan potensi ancaman yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Laporan terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menunjukkan bahwa kondisi mematikan ini dapat menjadi masalah kesehatan serius, terutama bagi kelompok lansia dan pasien yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Melansir Euronews, riset CDC tersebut dipublikasikan pekan ini untuk mengukur seberapa luas penyebaran penyakit akibat infeksi jamur invasif di tingkat populasi.

“Ini bisa dibilang pertama kalinya kami memiliki perkiraan seperti ini,” kata Jeremy Gold dari CDC, penulis senior studi tersebut.

Gold menekankan bahwa pemetaan skala masalah ini sangat krusial. Pasalnya, risiko penularan dapat melonjak tajam setelah terjadi bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim, seperti badai dan banjir.

Mengenal Infeksi Jamur Invasif dan Risikonya pada Lansia

Infeksi jamur invasif adalah penyakit yang terjadi ketika jamur tertentu berhasil masuk, menyerang, dan merusak jaringan dalam tubuh. Kendati tergolong jarang, penyakit ini terbukti sangat berbahaya dan dapat mengancam jiwa.

Secara umum, penularan terjadi saat seseorang menghirup spora jamur. Namun, jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka, sayatan bedah, atau penggunaan peralatan medis yang terkontaminasi.

Bagi orang dengan kekebalan tubuh yang kuat, spora jamur biasanya tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Namun, situasinya sangat berbeda bagi lansia dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi cenderung menurun, sehingga lansia lebih rentan mengalami komplikasi berat yang membutuhkan terapi obat antijamur dalam jangka panjang.

Tantangan Data Global dan Perkembangan Kasus

Hingga saat ini, belum ada data estimasi global yang terpadu mengenai angka kejadian dan kematian akibat jamur invasif. Kendati demikian, studi dalam jurnal Lancet pada 2024 memperkirakan beban globalnya mencapai 6,5 juta kasus infeksi invasif dengan angka kematian mencapai 3,8 juta jiwa per tahun.

Di kawasan Eropa, pemantauan kasus masih menemui kendala karena belum adanya sistem pencatatan terpadu maupun kewajiban pelaporan resmi di seluruh negara Uni Eropa. Pemantauan sejauh ini masih bertumpu pada program nasional di masing-masing negara. Padahal, populasi lansia yang terus bertambah membuat persoalan ini perlu mendapat perhatian yang jauh lebih serius.

Gambaran Kasus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Guna memperoleh gambaran kasus secara nyata, tim peneliti menelusuri data pasien dari empat rumah sakit dan klinik rawat jalan di wilayah Atlanta sepanjang periode 2020 hingga 2024.

Dari penelusuran awal terhadap hampir 1.000 dugaan kasus, peneliti menyaringnya menjadi sekitar 450 kasus terkonfirmasi—mengeliminasi pasien yang hanya menunjukkan tanda paparan tanpa memenuhi kriteria klinis penyakit jamur invasif.

Hasil studi menyimpulkan bahwa rumah sakit diperkirakan menangani tiga hingga lima kasus per tahun untuk setiap 100 tempat tidur rawat inap. Angka ini tercatat lebih tinggi di rumah sakit akademik besar yang rutin menangani penyakit dengan komplikasi kompleks.

Sebagian besar pasien yang terdampak memang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, di mana dalam beberapa kasus, daya tahan tubuh pasien makin melemah setelah sebelumnya terinfeksi COVID-19.

Meski riset ini tidak memetakan lokasi awal tempat pasien pertama kali terpapar, Gold menilai data tersebut sangat berharga. Informasi ini dapat menjadi tolok ukur (benchmark) bagi pengelola rumah sakit untuk menilai apakah jumlah kasus di fasilitas mereka masih dalam kisaran normal atau justru mengarah pada potensi wabah.

Sumber: VOI

Exit mobile version