Kesehatan

Cara Mencegah Gangguan Pendengaran pada Lansia

297
mencegah gangguan pendengaran pada lansia
lansia indonesia yang sedang mengalami Gangguan Pendengaran

Golansia.com – Seiring bertambahnya usia, berbagai perubahan fungsi tubuh tidak dapat dihindari. Salah satu kondisi yang kerap dialami pada usia lanjut adalah gangguan pendengaran atau yang dikenal dengan istilah presbikusis.

Presbikusis merupakan penurunan kemampuan mendengar yang terjadi secara bertahap akibat proses penuaan. Mengutip National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), sekitar satu dari tiga orang berusia 65–75 tahun mengalami gangguan pendengaran. Bahkan, pada usia di atas 75 tahun, tidak sedikit lansia yang mengalami penurunan pendengaran cukup signifikan.

Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hidup lansia, mulai dari kesulitan berkomunikasi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga meningkatkan risiko gangguan emosional.

Penyebab Gangguan Pendengaran pada Lansia

Gangguan pendengaran pada lansia dapat dipicu oleh berbagai faktor. Dikutip dari Medline Plus, beberapa penyebab yang berkontribusi terhadap presbikusis antara lain:

  • Riwayat gangguan pendengaran dalam keluarga

  • Paparan suara keras dalam jangka waktu lama

  • Kebiasaan merokok, yang diketahui meningkatkan risiko gangguan pendengaran

  • Penyakit tertentu, seperti diabetes

  • Konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya obat kemoterapi

Selain faktor usia, gaya hidup dan kondisi kesehatan turut memengaruhi kecepatan penurunan fungsi pendengaran.

Cara Mencegah Gangguan Pendengaran pada Lansia

Meski presbikusis merupakan bagian dari proses penuaan yang tidak sepenuhnya dapat dicegah, lansia tetap dapat melakukan berbagai upaya untuk memperlambat dan mencegah kerusakan pendengaran menjadi lebih parah.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Menghindari Paparan Suara Keras

Paparan suara keras dalam waktu lama merupakan penyebab utama gangguan pendengaran. Oleh karena itu, lansia dianjurkan untuk sebisa mungkin menjauhi lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.

Tingkat kebisingan diukur dalam satuan desibel (dB). Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), paparan suara di atas 70 dB dalam waktu lama dapat mulai merusak pendengaran. Sementara suara di atas 120 dB berisiko menyebabkan kerusakan telinga secara langsung.

Beberapa sumber suara yang sebaiknya dihindari lansia antara lain suara mesin cuci, sepeda motor, musik dengan volume tinggi, serta sirene dalam jarak dekat. Suara-suara tersebut berada pada kisaran 70–120 dB dan dapat mempercepat terjadinya gangguan pendengaran.

2. Menggunakan Pelindung Telinga

Menghindari suara bising sepenuhnya memang tidak selalu mudah. Sebagai solusi, lansia dapat menggunakan pelindung telinga seperti earplug atau earmuff saat berada di lingkungan yang bising.

Penggunaan alat pelindung telinga dapat membantu mengurangi tekanan suara yang masuk ke telinga, sehingga risiko kerusakan pendengaran dapat diminimalkan.

3. Rutin Memeriksakan Kesehatan Telinga

Pemeriksaan pendengaran secara rutin juga penting untuk mencegah gangguan pendengaran bertambah parah. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat memantau kondisi telinga sekaligus mendeteksi gangguan pendengaran lain sejak dini.

Lansia disarankan untuk memeriksakan pendengaran apabila mulai mengalami gejala berikut:

  • Kesulitan mendengar percakapan

  • Sering menaikkan volume televisi atau radio

  • Kerap meminta lawan bicara mengulang perkataan

  • Sulit mendengar di tempat ramai atau bising

  • Kesulitan membedakan bunyi tertentu, seperti huruf “s” dan “th”

  • Muncul suara berdenging di telinga

Melalui pemeriksaan rutin, lansia juga dapat berkonsultasi mengenai perawatan telinga yang tepat. Pada kasus presbikusis berat, dokter biasanya akan merekomendasikan penggunaan alat bantu dengar atau terapi komunikasi, seperti membaca gerak bibir, agar lansia tetap dapat berinteraksi dengan baik.

Exit mobile version