Example 728x250
BerandaDemensiaKesehatan

Demensia Bisa Ditandai dengan 4 Perubahan Kebiasaan Makan Ini

23
×

Demensia Bisa Ditandai dengan 4 Perubahan Kebiasaan Makan Ini

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Perubahan kebiasaan makan pada orang tua terkadang dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Padahal, ketika seseorang mulai kehilangan minat terhadap makanan, lupa waktu makan, atau tiba-tiba menyukai makanan yang sebelumnya jarang dikonsumsi, perubahan tersebut perlu diperhatikan.

Kebiasaan makan berkaitan dengan berbagai fungsi otak, mulai dari mengingat jadwal makan hingga merencanakan dan menyiapkan hidangan. Gangguan pada fungsi kognitif dapat membuat seseorang mengalami perubahan dalam cara memilih, menyiapkan, dan menikmati makanan.

Ahli neurologi Majid Fotuhi dari Mind/Brain Institute, Johns Hopkins University, mengatakan bahwa keluarga pengidap demensia kerap melaporkan perubahan perilaku makan sebagai salah satu hal yang mereka perhatikan.

“Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah ‘ibu saya mulai makan dengan aneh’,” ujar Fotuhi, seperti dikutip dari HuffPost.

Demensia merupakan istilah untuk sekumpulan gejala akibat penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari. Penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia yang paling umum.

Selain gangguan ingatan, demensia dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengambil keputusan, mengatur perilaku, hingga mengenali rasa lapar dan kenyang. Perubahan ini juga bisa terlihat dari kebiasaan makan sehari-hari.

Berikut empat perubahan kebiasaan makan yang perlu diperhatikan, terutama jika terjadi secara menetap dan berbeda dari kebiasaan seseorang sebelumnya.

1. Pilihan Makanan Menjadi Lebih Sederhana

Orang tua yang sebelumnya senang memasak hidangan rumit mungkin mulai memilih makanan yang lebih sederhana. Mereka bisa saja mengurangi jumlah bahan masakan, menghindari resep yang membutuhkan banyak tahapan, atau berhenti menyiapkan hidangan yang dahulu menjadi kegemarannya.

Perubahan tersebut tidak selalu berkaitan dengan hilangnya minat memasak. Menyiapkan makanan yang kompleks membutuhkan kemampuan merencanakan, mengingat urutan pekerjaan, mengatur waktu, dan mengambil keputusan.

Ahli neurologi Joel Salinas dari New York University menjelaskan bahwa demensia dapat mengganggu kemampuan perencanaan tersebut. Akibatnya, seseorang mungkin mengalami kesulitan ketika harus menentukan menu, berbelanja bahan makanan, hingga menyiapkan hidangan.

Informasi dari Alzheimer’s Society juga menjelaskan bahwa perubahan kognitif akibat demensia dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam merencanakan dan menyiapkan makanan secara mandiri.

Meski demikian, perubahan menu makanan saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya demensia. Berkurangnya tenaga, kondisi kesehatan, keterbatasan fisik, atau perubahan rutinitas juga dapat membuat seseorang memilih makanan yang lebih praktis.

2. Kehilangan Minat terhadap Makanan

Perubahan lain yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai kehilangan minat terhadap makanan yang sebelumnya disukai.

Orang tua mungkin makan lebih sedikit, tidak lagi menikmati hidangan favorit, atau menganggap makanan terasa hambar dan kurang menggugah selera. Pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan indra penciuman dan pengecapan.

Padahal, aroma dan rasa merupakan bagian penting yang membuat seseorang menikmati makanan. Ketika kemampuan mengenali aroma atau rasa berubah, keinginan untuk makan pun dapat berkurang.

Menurut Alzheimer’s Society, orang dengan demensia dapat mengalami penurunan nafsu makan karena perubahan persepsi terhadap makanan, termasuk berkurangnya kemampuan mencium dan mengecap. Kondisi ini dapat membuat makanan terasa kurang menarik dan meningkatkan risiko penurunan berat badan.

Namun, hilangnya selera makan juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain, seperti masalah gigi dan mulut, efek samping obat, penyakit tertentu, atau gangguan suasana hati.

Karena itu, perubahan nafsu makan yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai penurunan berat badan, sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis.

3. Lupa Waktu Makan atau Tidak Mengenali Rasa Lapar

Lupa waktu makan merupakan perubahan yang patut diperhatikan, terutama jika sebelumnya seseorang memiliki jadwal makan yang teratur.

Demensia dapat mengganggu kemampuan mengingat kegiatan sehari-hari. Seseorang mungkin lupa bahwa dirinya belum makan, tidak ingat apakah sudah menyelesaikan waktu makan, atau bahkan kembali mencari makanan karena lupa baru saja menyantap hidangan.

Selain gangguan ingatan, sebagian orang juga mengalami perubahan dalam mengenali sinyal lapar dan kenyang. Akibatnya, mereka bisa makan terlalu sedikit atau justru makan berulang kali dalam waktu berdekatan.

Ahli neurologi Adam Mednick menjelaskan bahwa demensia dapat mempersulit seseorang dalam menafsirkan sinyal internal tubuh yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.

“Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang,” ujar Mednick.

Ia menjelaskan bahwa gangguan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan keinginan untuk makan. Sebaliknya, gangguan ingatan juga bisa membuat seseorang lupa bahwa dirinya sudah makan.

“Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan,” ujarnya.

Dementia Australia turut menjelaskan bahwa orang dengan demensia dapat lupa makan dan minum, tidak menyadari ketika merasa lapar atau haus, atau justru merasa lapar terus-menerus.

Perubahan tersebut perlu mendapat perhatian karena makan terlalu sedikit dapat menyebabkan penurunan berat badan dan kekurangan nutrisi. Sebaliknya, kebiasaan makan berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan.

4. Tiba-Tiba Sangat Menyukai Makanan Manis

Perubahan selera makan lainnya adalah munculnya keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis. Seseorang yang sebelumnya jarang menyantap makanan manis bisa mulai sering meminta kue, permen, cokelat, atau minuman bergula.

Menurut Mednick, kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan pada bagian otak yang mengatur perilaku dan pengendalian impuls.

Perubahan preferensi makanan, termasuk meningkatnya keinginan mengonsumsi makanan manis, juga dilaporkan pada penderita demensia frontotemporal atau frontotemporal dementia (FTD).

Jenis demensia ini memengaruhi bagian frontal dan temporal otak yang berperan dalam perilaku, kepribadian, bahasa, dan fungsi kognitif tertentu. Pada sebagian penderita, perubahan tersebut dapat muncul dalam bentuk kebiasaan makan yang tidak biasa, termasuk keinginan kuat terhadap makanan tertentu.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology pada 2014 berjudul Quantifying the Eating Abnormalities in Frontotemporal Dementia menemukan bahwa perubahan perilaku makan, termasuk preferensi terhadap gula dan karbohidrat, cukup menonjol pada kelompok penderita demensia frontotemporal yang diteliti.

Dementia UK juga menjelaskan bahwa beberapa jenis demensia, khususnya demensia frontotemporal, dapat memicu kebiasaan makan berlebihan dan keinginan mengonsumsi makanan manis.

Meski demikian, menyukai makanan manis bukan berarti seseorang mengalami demensia. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apakah kesukaan tersebut berubah secara tiba-tiba, menjadi sangat kuat, atau disertai perubahan perilaku lain yang sebelumnya tidak pernah muncul.

Kapan Perubahan Kebiasaan Makan Perlu Diperiksa?

Empat perubahan di atas tidak dapat digunakan secara terpisah untuk mendiagnosis demensia. Selera makan seseorang dapat berubah karena berbagai alasan, termasuk perubahan kondisi kesehatan, gangguan penciuman, masalah gigi, efek samping obat, atau perubahan suasana hati.

Namun, keluarga perlu lebih waspada apabila perubahan kebiasaan makan muncul bersamaan dengan gejala lain, seperti sering lupa terhadap kejadian yang baru berlangsung, kesulitan mengikuti percakapan, kebingungan mengenai waktu atau tempat, serta kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri.

Perubahan yang baru muncul dan terus berlangsung sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya sekaligus menentukan apakah terdapat gangguan kognitif yang perlu ditangani.

Keluarga juga dapat membantu dengan memperhatikan pola makan, mencatat perubahan selera dan jumlah makanan yang dikonsumsi, serta mengamati perubahan berat badan. Informasi tersebut dapat membantu tenaga medis menilai kondisi orang yang bersangkutan.

Perubahan kebiasaan makan bukanlah bukti pasti demensia, tetapi dapat menjadi petunjuk yang tidak boleh diabaikan. Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus dan disertai penurunan daya ingat atau kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebabnya.(DBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *