Golansia.com – Merawat orang lanjut usia (lansia) yang hidup dengan lupus membutuhkan perhatian lebih. Selain menghadapi perubahan fisik akibat proses penuaan, lansia juga harus beradaptasi dengan penyakit autoimun kronis yang dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh.
Lupus, khususnya systemic lupus erythematosus (SLE), terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini dapat berdampak pada kulit, persendian, serta organ seperti ginjal, paru-paru, jantung, dan sistem saraf.
Lupus memang lebih sering ditemukan pada usia yang lebih muda. Namun, penyakit ini juga dapat muncul pada usia lanjut. Kondisi tersebut dikenal sebagai late-onset lupus dan terkadang sulit dikenali karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain yang umum dialami lansia.
Keluhan seperti nyeri atau peradangan sendi, demam, nyeri otot, gangguan paru-paru, hingga gejala yang berkaitan dengan sistem saraf dapat muncul pada penderita lupus. Karena itu, pendampingan dan pemantauan kesehatan menjadi bagian penting dalam perawatan lansia dengan lupus.
1. Lindungi Lansia dari Paparan Sinar Matahari Berlebihan
Pada sebagian penderita lupus, paparan sinar ultraviolet (UV) dapat memicu atau memperburuk gejala, terutama keluhan pada kulit. Karena itu, aktivitas di luar rumah perlu direncanakan dengan baik.
Saat harus berada di luar ruangan, lansia dapat menggunakan pakaian yang menutupi kulit, topi bertepi lebar, serta tabir surya dengan perlindungan yang sesuai.
Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dilakukan pada waktu ketika paparan matahari tidak terlalu kuat. Namun, kebutuhan perlindungan terhadap sinar matahari dapat berbeda pada setiap penderita sehingga sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dokter.
2. Bantu Mengelola Stres
Stres dapat membuat seseorang merasa lebih lelah dan pada sebagian penderita lupus dapat berkaitan dengan memburuknya keluhan.
Karena itu, lingkungan yang tenang dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Lansia dapat diajak melakukan kegiatan yang mereka sukai, seperti berkebun di dalam rumah, membaca, mendengarkan musik, melakukan latihan pernapasan, meditasi, atau aktivitas relaksasi lainnya.
Yang terpenting, jangan membuat lansia merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.
Dukungan emosional dari keluarga dapat membantu menjaga suasana hati sekaligus membuat mereka lebih nyaman menjalani pengobatan.
3. Tetap Aktif dengan Olahraga yang Sesuai
Lupus bukan berarti lansia harus berhenti bergerak. Justru, aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi tubuh dapat membantu mempertahankan kebugaran, kekuatan otot, dan fleksibilitas sendi.
Jalan santai, latihan peregangan, senam ringan, atau olahraga di dalam air dapat menjadi pilihan, selama dokter menyatakan aktivitas tersebut aman.
Namun, jangan memaksakan tubuh. Jika sedang mengalami kelelahan berat atau gejala lupus kambuh, intensitas aktivitas sebaiknya dikurangi dan disesuaikan dengan kondisi.
Melakukan aktivitas bersama keluarga atau teman juga dapat membuat olahraga terasa lebih menyenangkan.
4. Perhatikan Asupan untuk Menjaga Kesehatan Tulang
Lansia dengan lupus perlu mendapatkan perhatian khusus terkait kesehatan tulang. Risiko osteoporosis dapat meningkat karena berbagai faktor, termasuk usia, kurang aktivitas fisik, serta penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang pada sebagian pasien.
Karena itu, pastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, terutama kalsium dan vitamin D sesuai kebutuhan individu.
Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan tertentu yang dapat dimakan bersama tulangnya, tahu, serta beberapa jenis sayuran.
Jika kebutuhan nutrisi tidak dapat terpenuhi melalui makanan atau terdapat risiko osteoporosis, dokter dapat mempertimbangkan suplemen atau pengobatan tertentu.
Jangan memberikan suplemen kalsium atau obat osteoporosis secara mandiri. Kebutuhannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan obat lain yang sedang dikonsumsi.
5. Pastikan Waktu Istirahat Cukup
Kelelahan merupakan keluhan yang cukup sering dialami penderita lupus. Pada lansia, kebutuhan istirahat juga menjadi semakin penting agar tubuh memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.
Bantu lansia membuat jadwal tidur yang teratur. Ciptakan kamar yang nyaman dan upayakan agar aktivitas yang terlalu berat tidak dilakukan menjelang waktu tidur.
Jika rasa lelah berlangsung terus-menerus atau semakin berat, jangan langsung menganggapnya sebagai bagian normal dari usia lanjut. Keluhan tersebut sebaiknya dibicarakan dengan dokter karena bisa berkaitan dengan aktivitas lupus, anemia, gangguan tidur, infeksi, atau kondisi lain.
6. Hindari Rokok dan Batasi Alkohol
Merokok dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan jantung dan paru-paru serta berpotensi memperburuk berbagai masalah kesehatan yang menyertai lupus.
Karena itu, lansia dengan lupus sebaiknya tidak merokok dan sebisa mungkin menghindari paparan asap rokok.
Sementara itu, alkohol perlu diperhatikan karena dapat berinteraksi dengan obat tertentu. Jika lansia sedang menjalani pengobatan lupus, tanyakan kepada dokter apakah konsumsi alkohol aman atau sebaiknya dihindari sepenuhnya.
7. Jangan Abaikan Demam atau Tanda Infeksi
Demam pada lansia dengan lupus tidak boleh dianggap sepele. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan aktivitas penyakit, tetapi juga dapat menjadi tanda infeksi.
Risiko infeksi pada sebagian penderita lupus dapat meningkat, terutama jika menggunakan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh.
Jika lansia mengalami demam, menggigil, batuk yang menetap, sesak napas, nyeri saat buang air kecil, atau gejala infeksi lainnya, segera hubungi tenaga kesehatan.
Hindari memberikan obat secara sembarangan, terutama jika lansia sedang mengonsumsi beberapa jenis obat untuk mengendalikan lupus.
Perawatan Lupus Membutuhkan Dukungan Keluarga
Merawat lansia dengan lupus bukan hanya soal mengingatkan mereka minum obat. Keluarga juga perlu membantu menjaga pola hidup sehat, memastikan kontrol medis berjalan teratur, memperhatikan perubahan gejala, serta memberikan dukungan emosional.
Lupus memiliki perjalanan penyakit yang berbeda pada setiap orang. Karena itu, tidak semua penderita membutuhkan pola perawatan yang sama.
Perawatan terbaik adalah yang disusun bersama dokter berdasarkan kondisi, gejala, obat yang digunakan, serta penyakit lain yang mungkin dimiliki lansia.
Dengan pendampingan yang tepat, lansia dengan lupus tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih nyaman dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Jangan hanya fokus pada penyakitnya. Bantu lansia tetap merasa berdaya, didukung, dan memiliki kesempatan untuk menikmati hari-harinya.

















