Example 728x250
Daftar Penyakit

Lansia Rentan Spondylosis, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

240
×

Lansia Rentan Spondylosis, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

Sebarkan artikel ini
spondylosis pada lansia
lansia indonesia menggunakan tongkat untuk berjalan

Golansia.com – Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan, termasuk pada sistem tulang. Tidak heran jika lansia menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan tulang belakang, salah satunya adalah spondylosis.

Lalu, benarkah kondisi ini hanya menyerang orang lanjut usia? Atau sekadar mitos?

Apa Itu Spondylosis?

Spondylosis merupakan istilah medis yang menggambarkan proses degeneratif pada tulang belakang. Kondisi ini terjadi ketika bantalan antar ruas tulang (tulang rawan) mengalami penurunan fungsi, mengeras, bahkan mengalami pengapuran.

Akibatnya, ruang bagi saraf di tulang belakang bisa menyempit dan menimbulkan tekanan. Kondisi inilah yang memicu berbagai keluhan, mulai dari nyeri, kaku, hingga sensasi kesemutan.

Lansia Lebih Berisiko, Tapi Bukan Satu-satunya

Secara medis, spondylosis memang lebih sering ditemukan pada lansia. Bahkan, lebih dari 85 persen orang berusia di atas 60 tahun mengalami bentuk tertentu dari spondylosis, terutama pada bagian leher.

Meski begitu, gejala awalnya sebenarnya bisa muncul sejak usia produktif, yakni antara 20 hingga 50 tahun. Artinya, kondisi ini bukan semata-mata penyakit lansia, melainkan bagian dari proses penuaan yang bisa dipicu berbagai faktor.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Selain usia, ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko spondylosis, di antaranya:

  • Faktor genetik atau riwayat keluarga
  • Kelebihan berat badan (obesitas)
  • Kurang aktivitas fisik
  • Kebiasaan merokok
  • Cedera atau trauma pada tulang belakang
  • Aktivitas berulang yang memberi tekanan pada sendi

Beberapa kondisi kesehatan seperti diabetes, asam urat, psoriasis, hingga infeksi tertentu juga dapat memperbesar risiko terjadinya gangguan ini.

Gejala yang Sering Muncul

Spondylosis dapat menyerang berbagai bagian tulang belakang, mulai dari leher hingga punggung bawah. Gejalanya pun bervariasi, di antaranya:

  • Nyeri dan kaku pada leher atau punggung
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki
  • Nyeri menjalar ke bahu
  • Sakit kepala
  • Kelemahan otot pada anggota tubuh tertentu

Menariknya, rasa nyeri sering kali berkurang saat penderita beristirahat atau berbaring.

Cara Diagnosis dan Pengobatan

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik yang dilanjutkan dengan tes penunjang seperti rontgen (X-ray) atau MRI. Tes darah juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Penanganan spondylosis bertujuan meredakan gejala dan menjaga kualitas hidup pasien. Beberapa metode yang umum dilakukan meliputi:

1. Obat-obatan

Penggunaan obat pereda nyeri, antiinflamasi, hingga pelemas otot untuk mengurangi keluhan.

2. Terapi Fisik

Latihan khusus untuk memperkuat otot serta meningkatkan fleksibilitas tulang belakang.

3. Tindakan Operasi

Dilakukan pada kasus berat, terutama jika terjadi gangguan saraf yang signifikan.

Mitos atau Fakta?

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa anggapan lansia berisiko tinggi mengalami spondylosis adalah fakta. Namun, penting dipahami bahwa kondisi ini tidak hanya menyerang lansia, melainkan bisa terjadi pada siapa saja dengan faktor risiko tertentu.

Karena itu, menjaga pola hidup sehat sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan tulang belakang di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *