Tips Lansia

Rutin Mendengarkan Musik Terbukti Turunkan Risiko Demensia pada Lansia

270
Rutin Mendengarkan Musik Kurangi Risiko Demensia
lansia indonesia yang sedang Mendengarkan Musik di rumahnya

Golansia.com – Kebiasaan rutin mendengarkan musik disebut dapat membantu menurunkan risiko demensia pada lansia. Temuan ini berasal dari studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Monash University, Australia, yang meneliti hubungan antara aktivitas bermusik dan kesehatan kognitif di usia lanjut.

Kepala unit penelitian Biological Neuropsychiatry and Dementia di School of Public Health Monash University sekaligus peneliti senior studi tersebut, Joanne Ryan, mengatakan bahwa musik menjadi salah satu aspek penting yang diteliti dalam upaya menjaga kesehatan otak lansia.

“Musik adalah salah satu bidang yang kami minati,” ujar Ryan, seperti dikutip dari The Washington Post.

Musik dan Penurunan Risiko Demensia

Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis data lebih dari 10.800 peserta berusia 70 tahun ke atas. Data dikumpulkan secara tahunan dari para peserta serta penyedia layanan kesehatan, sementara penilaian fungsi kognitif dilakukan oleh tenaga profesional yang telah terlatih.

Hasil analisis menunjukkan bahwa lansia yang rutin mendengarkan musik memiliki risiko 39 persen lebih rendah mengalami demensia dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Temuan ini dilaporkan oleh Science Daily.

Tidak hanya itu, kelompok lansia yang rutin mendengarkan musik juga menunjukkan manfaat kognitif paling signifikan. Selain penurunan risiko demensia, mereka tercatat memiliki risiko 17 persen lebih rendah terhadap gangguan kognitif.

“Mereka juga memiliki risiko yang lebih rendah terhadap penurunan kognitif secara umum. Selain itu, selama periode penelitian, mereka secara konsisten menunjukkan performa yang lebih baik dalam tugas-tugas memori dan tes fungsi kognitif global,” jelas Ryan.

Bermain Alat Musik Juga Memberi Manfaat

Manfaat serupa juga ditemukan pada lansia yang aktif bermain alat musik. Peserta yang rutin memainkan alat musik tercatat mengalami penurunan risiko demensia hingga 35 persen.

Sementara itu, lansia yang mengombinasikan kebiasaan mendengarkan dan bermain musik menunjukkan penurunan risiko demensia sebesar 33 persen, serta penurunan risiko gangguan kognitif sebesar 22 persen.

Meski demikian, Ryan menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian ini belum dapat memastikan bahwa musik secara langsung menjadi penyebab utama berkurangnya risiko penurunan kognitif.

Menurutnya, masih ada kemungkinan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kebiasaan bermusik turut memengaruhi hasil tersebut.

Apa yang Terjadi pada Otak Saat Mendengarkan Musik?

Penelitian terpisah mengenai dampak musik terhadap otak manusia juga dilakukan oleh para peneliti di Music Cognition Lab, Princeton University, Amerika Serikat.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang mendengarkan musik, berbagai area otak akan aktif secara bersamaan. Area yang terlibat meliputi bagian motorik, sensorik, pusat pengolahan emosi, hingga area yang berkaitan dengan imajinasi dan lamunan.

Kondisi ini diduga menjadi salah satu alasan mengapa musik memiliki pengaruh kuat terhadap kesehatan otak.

“Salah satu hal yang tampaknya sangat penting adalah memastikan semua area otak tersebut saling berkomunikasi dengan cara yang bermakna. Dan itu adalah sesuatu yang sangat dikuasai oleh musik,” ujar Elizabeth Margulis, Direktur Music Cognition Lab sekaligus pianis.

Musik sebagai Aktivitas Sederhana untuk Kesehatan Otak

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa aktivitas sederhana seperti mendengarkan atau bermain musik dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat bagi lansia. Meski bukan pengganti pengobatan medis, musik berpotensi menjadi sarana pendukung untuk menjaga fungsi kognitif di usia lanjut.

Exit mobile version