Penyakit Tulang

Dokter Ungkap Penyebab Lansia Sering Jatuh di Kamar Mandi, Ternyata Bukan Cuma Osteoporosis

135
lansia jatuh di kamar mandi
lansia indonesia jatuh dari kamar mandi

Golansia.com — Kasus lansia jatuh di kamar mandi masih sering terjadi dan kerap berujung fatal, mulai dari patah tulang hingga kehilangan kemampuan berjalan secara mandiri.

Selama ini banyak orang menganggap penyebab utamanya adalah osteoporosis atau pengeroposan tulang. Namun menurut dokter, ada faktor lain yang tidak kalah penting dan sering luput dari perhatian, yaitu penurunan massa otot atau sarkopenia.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Andhika Raspati menjelaskan bahwa otot memiliki fungsi penting untuk menopang tubuh sekaligus menjaga keseimbangan saat seseorang berdiri, berjalan, maupun ketika terpeleset.

“Kenapa orang tua jatuh di kamar mandi bisa fatal? Karena ototnya sudah lemah untuk menahan tubuh,” ujar dr. Andhika dalam konferensi pers HiLo Strong Fest 2026 di Jakarta Selatan.

Penurunan Massa Otot Terjadi Sejak Usia 30 Tahun

Menurut dr. Andhika, setiap orang secara alami akan mengalami penurunan massa otot seiring bertambahnya usia.

Namun, orang yang rutin melatih kekuatan otot memiliki cadangan kekuatan tubuh yang lebih baik sehingga proses penurunannya berlangsung lebih lambat.

Sebaliknya, mereka yang jarang bergerak atau tidak pernah melatih otot akan lebih cepat mengalami penurunan kemampuan fisik hingga masuk ke fase rentan atau frailty.

Kondisi ini membuat tubuh lebih mudah kehilangan keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh, terutama di area licin seperti kamar mandi.

Dampak Terbesar: Kehilangan Kemandirian

Dr. Andhika menjelaskan bahwa salah satu dampak paling serius dari melemahnya otot adalah hilangnya kemandirian saat usia lanjut.

Lansia yang mengalami sarkopenia biasanya mulai kesulitan melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan, naik tangga, hingga bangun dari posisi duduk.

Dalam kondisi lebih berat, mereka bahkan membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas sehari-hari.

“Kita tentu ingin saat tua tetap bisa berjalan sendiri, datang ke acara keluarga tanpa harus dipapah atau menggunakan kursi roda,” katanya.

Jangan Tunggu Tua Baru Mulai Latihan Otot

Sementara itu, Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, mengatakan kesadaran masyarakat tentang sarkopenia masih jauh lebih rendah dibanding osteoporosis.

Padahal, penurunan massa otot sebenarnya mulai terjadi sejak usia sekitar 30 tahun.

Karena itu, menjaga kekuatan otot sebaiknya dimulai sejak usia produktif, bukan menunggu memasuki masa lansia.

Menurutnya, menjaga massa otot membutuhkan kombinasi antara olahraga rutin dan asupan nutrisi yang cukup, terutama protein.

Selama ini masyarakat cenderung hanya fokus pada kalsium untuk kesehatan tulang, padahal otot juga membutuhkan protein agar tetap kuat menopang tubuh.

Latihan Otot Bukan Hanya untuk Atlet

Dr. Andhika menegaskan bahwa latihan penguatan otot bukan sekadar untuk membentuk tubuh atau kebutuhan atlet.

Latihan tersebut merupakan investasi kesehatan jangka panjang agar tubuh tetap kuat, seimbang, dan aktif saat memasuki usia lanjut.

Latihan beban ringan, berjalan rutin, hingga aktivitas fisik sederhana dapat membantu menjaga massa otot apabila dilakukan secara konsisten.

Bahkan, orang yang belum pernah berolahraga sekalipun tetap bisa mulai melatih kekuatan otot secara bertahap sesuai kemampuan tubuh masing-masing.

Dengan menjaga massa otot sejak dini dan memenuhi kebutuhan protein harian, risiko jatuh di usia lanjut dapat dikurangi sehingga lansia tetap mandiri dan aktif bergerak lebih lama.

Exit mobile version