BerandaKesehatanPenyakit Mata

Operasi Katarak Gratis Buka Kembali Harapan Lansia NTT untuk Melihat Lebih Jelas

213

Golansia.com — Bagi banyak lansia di daerah terpencil, gangguan penglihatan bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan juga ancaman terhadap kemandirian dan mata pencaharian. Ketika akses layanan dokter mata terbatas dan biaya pengobatan sulit dijangkau, penglihatan yang terus memburuk kerap dianggap sebagai bagian tak terelakkan dari proses penuaan.

Kondisi itu dialami Oktovianus Klein, warga Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama bertahun-tahun, pria berusia 62 tahun tersebut harus beraktivitas dengan penglihatan yang semakin kabur akibat katarak. Kini, melalui program operasi katarak gratis yang digelar pemerintah dan sejumlah mitra, ia kembali memiliki harapan untuk melihat dunia dengan lebih jelas.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan yang sebenarnya dapat ditangani melalui operasi. Di Indonesia, kasus katarak juga banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia, terutama di daerah yang akses layanan kesehatan matanya masih terbatas.

Oktovianus mengaku mulai mengalami gangguan penglihatan pada mata kanannya sejak beberapa tahun lalu.

“Penglihatan saya mulai terasa kabur tuh sekitar lima tahun terakhir,” kata Oktovianus dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Meski menyadari ada masalah pada matanya, ia tidak segera mencari pengobatan. Selain terkendala biaya, ketiadaan layanan dokter mata di wilayah tempat tinggalnya membuat akses terhadap pengobatan menjadi sulit.

Akibat kondisi tersebut, Oktovianus tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan penglihatan yang terbatas. Sebagai tukang ojek dengan penghasilan yang tidak menentu, ia juga kerap membantu mengantarkan sayur-mayur ke pasar dan para pedagang.

Gangguan penglihatan itu semakin terasa saat bekerja di jalan.

“Kadang terganggu juga kalau pas lagi ngojek. Pas bawa motor tuh kalau kena cahaya lampu rasanya silau, kayak berkunang-kunang,” ungkap dia.

Selain keterbatasan akses layanan kesehatan, minimnya informasi mengenai operasi katarak membuat Oktovianus sempat enggan menjalani tindakan medis. Ia mengaku takut karena mendengar berbagai informasi yang keliru mengenai prosedur operasi tersebut.

“Takut operasi karena dari awal itu saya dengar katanya mau taruh mata, cungkil mata, ganti dengan mata kucing,” ujar Oktovianus.

Perlahan, ketakutan itu hilang setelah ia mendapatkan edukasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan berbagai pihak terkait. Pemahaman yang lebih baik mengenai prosedur operasi membuatnya akhirnya bersedia menjalani tindakan medis.

Program operasi katarak gratis tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Sosial (Kemensos), Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP), dan Pemerintah Kabupaten Kupang.

“Ya namanya kita mau untuk sembuh, dapat pertolongan dari operasi ya. Apapun yang terjadi ya, hati kita serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa, ya,” ucap Oktovianus.

Operasi katarak gratis itu digelar dalam rangkaian peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh pada 29 Mei. Kegiatan berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Kabupaten Kupang, NTT, pada 29-31 Mei 2026.

Hasilnya mulai dirasakan Oktovianus. Meski proses pemulihan masih berlangsung, penglihatannya kini berangsur membaik.

“Artinya bukan langsung total, tapi ada perubahan gitu, lebih jelas (melihat),” ungkapnya.

Pengalaman serupa dirasakan Orpan Nelci Sodak Manafe (69), warga Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur. Setelah menjalani operasi pada mata sebelah kiri, ia kini dapat melihat lebih baik dibanding sebelumnya.

Nelci merupakan seorang ibu rumah tangga yang telah kehilangan suaminya tiga tahun lalu. Sejak saat itu, ia berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan sayur di pasar. Ketiga anaknya yang telah berkeluarga turut membantu menopang kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, Nelci juga menerima bantuan sembako dari pemerintah sejak suaminya meninggal dunia. Karena itu, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya program operasi katarak gratis tersebut.

“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah yang telah membuka operasi gratis. Bukan saya sendiri, tapi masyarakat Kabupaten Kupang. Supaya bilamana ada kesempatan tahun depan, jika Tuhan berkehendak untuk bisa mama-mama, opa-opa yang belum dapat dioperasi bisa dijalankan pada tahun depan,” ujar Nelci.

Bagi Oktovianus, Nelci, dan banyak lansia lainnya, operasi katarak bukan sekadar tindakan medis. Program tersebut menjadi pintu untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri, sekaligus menghadirkan harapan baru di usia senja.(Dbs)

Exit mobile version