KesehatanOsteoporosisTips LansiaTips Sehat Manula

Menopause Bisa Bikin Tulang Perempuan Lebih Rapuh, Waspadai Risiko Tubuh Membungkuk

28

Golansia.com — Perubahan postur tubuh pada perempuan lanjut usia tidak selalu sekadar akibat bertambahnya umur. Di balik tubuh yang semakin membungkuk dan tinggi badan yang berkurang, terdapat kemungkinan masalah kesehatan tulang, salah satunya osteoporosis yang dapat berkembang tanpa disadari selama bertahun-tahun.

Risiko tersebut lebih perlu diperhatikan pada perempuan setelah menopause. Penurunan hormon estrogen yang terjadi pada fase ini dapat mempercepat kehilangan massa tulang sehingga struktur tulang menjadi lebih rapuh. Jika kondisi berlanjut, tulang belakang berisiko mengalami patah atau penekanan yang dapat mengubah postur tubuh.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Ortopedi Tulang Belakang Konsultan dari Siloam Hospital Mampang, dr. Dohar A.L Tobing, Sp.OT, Sp.OTB(K), menjelaskan bahwa hormon estrogen memiliki peran penting dalam pembentukan dan pemeliharaan massa tulang perempuan.

“Iya, ada benarnya. Oleh karena pada wanita itu kan pembentukan tulang dipengaruhi hormon, salah satunya dipengaruhi hormon estrogen, hormon wanita tentunya. Sehingga ketika pada usia menopause hormon estrogen ini turun, tentu itu akan sangat berpengaruh kepada tulangnya,” ujar dr. Dohar saat ditemui dalam acara Timeless Music, Timeless Movement yang digelar Siloam Hospital Mampang di Fountain Atrium Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Penjelasan tersebut sejalan dengan informasi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Organisasi profesi kebidanan dan kandungan Amerika Serikat itu menyebutkan bahwa perempuan mengalami kehilangan massa tulang lebih cepat dalam empat hingga delapan tahun pertama setelah menopause akibat penurunan kadar estrogen. Jika kehilangan massa tulang berlangsung berlebihan, risiko osteoporosis dan patah tulang pun meningkat.

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Mengalami Osteoporosis?

Estrogen bukan hanya berperan dalam sistem reproduksi perempuan, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penghancuran jaringan tulang. Ketika kadar hormon ini menurun setelah menopause, proses kehilangan tulang dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan pembentukannya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan bahwa osteoporosis lebih sering dialami perempuan setelah menopause karena berkurangnya estrogen yang berfungsi menjaga kepadatan tulang. Risiko juga dapat meningkat akibat faktor lain, seperti kekurangan kalsium dan vitamin D, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang.

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS) Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa perempuan memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini antara lain berkaitan dengan massa tulang puncak perempuan yang cenderung lebih rendah serta kehilangan massa tulang yang lebih besar setelah menopause.

Osteoporosis sering disebut sebagai penyakit yang berkembang secara diam-diam karena pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala. Sebagian orang baru mengetahui kondisi tersebut setelah mengalami patah tulang, termasuk pada bagian tulang belakang.

Tubuh Membungkuk Bisa Menjadi Tanda Patah Tulang Belakang

Salah satu perubahan fisik yang dapat berkaitan dengan osteoporosis adalah tubuh semakin membungkuk atau tinggi badan berkurang. Kondisi ini dapat terjadi ketika ruas tulang belakang mengalami patah tekan atau kompresi akibat struktur tulang yang melemah.

Pada penderita osteoporosis, patah tulang belakang tidak selalu terjadi akibat kecelakaan atau benturan keras. Tekanan ringan, bahkan aktivitas sehari-hari, dapat memicu keretakan pada tulang yang sudah rapuh.

Dokter Dohar menjelaskan, patah pada ruas tulang belakang terkadang berlangsung secara perlahan sehingga tidak langsung disadari oleh penderitanya.

“Misalnya ada patah ruas tulang belakangnya karena pada orang-orang tua di mana tulangnya sudah mulai keropos, itu patah terjadi pelan-pelan. Pelan-pelan, nyeri-nyeri nanti begitu memeriksakan diri, ruas tulang belakangnya sudah flat, sudah remuk lumayan ekstrem,” tuturnya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan bentuk tulang belakang, termasuk kifosis atau kelengkungan berlebihan pada bagian punggung atas sehingga tubuh terlihat membungkuk.

International Osteoporosis Foundation (IOF) menyebutkan bahwa kehilangan tinggi badan dan perubahan postur menjadi salah satu petunjuk yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan patah tulang belakang. Perempuan pascamenopause yang mengalami penurunan tinggi badan lebih dari empat sentimeter dari tinggi maksimal saat dewasa, misalnya, perlu dipertimbangkan untuk menjalani evaluasi lebih lanjut, terutama jika memiliki faktor risiko osteoporosis.

Meski demikian, tubuh membungkuk tidak selalu disebabkan oleh osteoporosis. Perubahan bantalan antarruas tulang belakang, gangguan otot, kelainan postur, dan kondisi kesehatan lainnya juga dapat memengaruhi bentuk tulang belakang.

Karena itu, nyeri punggung yang menetap, tinggi badan yang semakin berkurang, atau perubahan postur yang makin terlihat sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.

Cara Menjaga Kesehatan Tulang Sejak Usia Muda

Pencegahan osteoporosis sebaiknya tidak baru dilakukan setelah memasuki usia lanjut. Massa tulang dibangun sejak masa pertumbuhan dan mencapai puncaknya pada usia dewasa muda. Kekuatan tulang yang terbentuk sejak awal kehidupan turut menentukan risiko osteoporosis pada kemudian hari.

Dokter Dohar mengingatkan pentingnya mengumpulkan massa tulang sejak usia muda melalui pola hidup sehat. Kebiasaan kurang bergerak, jarang berolahraga, serta minim asupan kalsium dan vitamin D dapat memengaruhi pembentukan dan pemeliharaan tulang.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol karena keduanya dapat mengganggu kesehatan tulang.

“Sehingga perlu gaya hidup yang sehat untuk masa muda itu ngumpulin massa tulangnya. Sehingga pada saat estrogen ini menurun, dia punya stok kuat cukup untuk paling tidak untuk kegiatan sehari-hari,” pungkasnya.

Selain itu, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang.

1. Penuhi kebutuhan kalsium

Kalsium merupakan mineral utama penyusun tulang. Asupannya dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan yang dapat dimakan bersama tulangnya, tahu, tempe, serta sayuran hijau tertentu.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes menyebutkan bahwa perempuan pascamenopause perlu memperhatikan kecukupan kalsium untuk membantu menjaga kepadatan tulang. Pedoman nasional penatalaksanaan osteoporosis juga mencantumkan kebutuhan kalsium sekitar 1.200 miligram per hari bagi perempuan usia 50-70 tahun.

2. Pastikan asupan vitamin D tercukupi

Vitamin D membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh sehingga berperan penting dalam pemeliharaan tulang. Sumber vitamin D antara lain paparan sinar matahari, ikan berlemak, kuning telur, serta makanan yang telah diperkaya vitamin D.

Kekurangan vitamin D dalam jangka panjang dapat mengganggu penyerapan kalsium dan memengaruhi kekuatan tulang. Penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan anjuran tenaga medis.

3. Rutin melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik membantu menjaga kekuatan tulang dan otot. Beberapa pilihan kegiatan yang dapat dilakukan antara lain berjalan kaki, senam, latihan kekuatan, dan olahraga beban sesuai kemampuan.

Latihan keseimbangan juga penting, terutama bagi lansia, untuk membantu mengurangi risiko jatuh yang dapat menyebabkan patah tulang.

4. Hindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan

Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Menghindari kedua kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tulang dalam jangka panjang.

Kapan Perlu Memeriksakan Kepadatan Tulang?

Perempuan yang memasuki masa menopause, terutama yang memiliki faktor risiko osteoporosis, perlu memperhatikan kondisi tulangnya. Pemeriksaan kepadatan mineral tulang dapat dilakukan menggunakan metode dual-energy X-ray absorptiometry (DXA), yang membantu mengukur kepadatan tulang dan menilai risiko osteoporosis.

Pemeriksaan semakin penting jika seseorang mengalami patah tulang akibat benturan ringan, nyeri punggung yang menetap, perubahan postur, atau penurunan tinggi badan yang tidak biasa.

Jika osteoporosis telah terdiagnosis, penanganan tidak cukup hanya dengan memperbaiki pola makan dan berolahraga. Dokter dapat merekomendasikan pengobatan untuk memperlambat kehilangan massa tulang atau mengurangi risiko patah tulang, sesuai kondisi pasien.

Dengan demikian, perubahan postur pada perempuan lanjut usia tidak seharusnya selalu dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan. Penurunan estrogen setelah menopause memang dapat mempercepat kehilangan massa tulang, tetapi risiko komplikasi seperti patah tulang belakang dapat dikurangi melalui pencegahan, pemeriksaan, dan penanganan yang tepat.(DBS)

Exit mobile version