Teknologi

Lansia Jepang Kini Lebih Percaya AI untuk Curhat, Fenomena Kesepian Jadi Sorotan

168
lansia Jepang memilih AI untuk curhat
lansia Jepang memilih AI untuk curhat

Golansia.com – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk pekerjaan dan teknologi modern. Di Jepang, AI mulai mengambil peran baru sebagai tempat berbagi cerita dan meminta nasihat, terutama bagi kalangan lansia.

Sebuah survei terbaru mengungkap banyak perempuan lanjut usia di Jepang justru merasa lebih nyaman curhat kepada AI dibanding berbicara dengan manusia.

Hasil survei yang dirilis Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community pada akhir Mei 2026 menunjukkan sebanyak 47,8 persen perempuan usia 60 hingga 70 tahun memilih berkonsultasi dengan AI terkait persoalan hubungan interpersonal.

Jumlah tersebut melampaui responden perempuan lansia yang memilih meminta saran kepada manusia, yakni sebesar 37,3 persen.

Fenomena ini menarik perhatian karena kelompok perempuan lansia menjadi satu-satunya kategori usia dalam survei yang lebih memilih AI dibanding manusia sebagai tempat bercerita.

AI Dinilai Lebih Aman dan Tidak Menghakimi

Secara umum, mayoritas masyarakat Jepang sebenarnya masih lebih nyaman meminta nasihat kepada sesama manusia.

Sebanyak 45,8 persen responden memilih berkonsultasi dengan manusia, sementara 36,5 persen lainnya merasa lebih nyaman berbicara dengan AI.

Namun, tren berbeda terlihat pada perempuan lansia.

Banyak responden menilai AI lebih objektif, tidak menghakimi, dan memberikan rasa aman saat membicarakan persoalan pribadi.

Peneliti dari Chiba University, Atsushi Nakagomi, mengaku terkejut dengan hasil survei tersebut.

Menurutnya, AI menciptakan ruang percakapan yang membuat seseorang lebih mudah terbuka tanpa rasa takut dinilai oleh orang lain.

“AI membuat orang merasa lebih nyaman untuk terbuka karena mereka tidak perlu khawatir tentang bagaimana ucapan mereka akan dinilai,” ujarnya.

Kesepian Lansia Jepang Kian Meningkat

Di balik fenomena tersebut, para peneliti menilai ada persoalan sosial yang lebih besar, yakni meningkatnya isolasi sosial di kalangan lansia Jepang.

Sebagai salah satu negara dengan populasi lanjut usia terbesar di dunia, sekitar 29 persen penduduk Jepang saat ini berusia di atas 65 tahun.

Data dari National Institute of Population and Social Security Research menunjukkan hampir 19,4 persen lansia Jepang hidup sendirian.

Jumlah rumah tangga lansia tunggal bahkan diperkirakan meningkat hingga 47 persen pada tahun 2050.

Kondisi tersebut membuat banyak lansia kehilangan ruang sosial untuk berbagi cerita maupun mendiskusikan persoalan pribadi secara mendalam.

Tidak sedikit perempuan lansia di Jepang yang telah kehilangan pasangan hidup, tinggal berjauhan dari anak-anak, atau tidak lagi memiliki lingkungan kerja yang dulu menjadi tempat bersosialisasi.

Faktor Budaya Jepang Ikut Berpengaruh

Budaya sosial Jepang yang cenderung tertutup dalam mengungkap persoalan pribadi juga dinilai menjadi faktor penting di balik meningkatnya ketergantungan terhadap AI.

Dalam budaya masyarakat Jepang, membuka kerentanan kepada orang lain sering dianggap memiliki “biaya sosial”, seperti takut dinilai negatif, menjadi bahan pembicaraan, atau mengganggu hubungan sosial.

AI dianggap berbeda karena tidak memiliki posisi sosial dan tidak memberikan penilaian emosional terhadap pengguna.

Selain itu, AI dinilai tidak akan bergosip atau mengubah hubungan sosial seseorang setelah mendengar cerita pribadi.

Kondisi inilah yang membuat sebagian perempuan lansia merasa lebih bebas dan nyaman terbuka kepada AI dibanding manusia di kehidupan nyata.

Lansia Pria Masih Lebih Memilih Manusia

Meski tren penggunaan AI cukup tinggi di kalangan perempuan lansia, hasil berbeda ditemukan pada laki-laki lansia Jepang.

Sebanyak 57 persen pria usia 60 hingga 70 tahun masih memilih meminta nasihat kepada manusia, sementara hanya 25,2 persen yang memilih AI.

Survei daring tersebut dilakukan pada pertengahan Januari 2026 dengan melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di seluruh Jepang.

Temuan ini kini memicu diskusi luas mengenai perubahan relasi manusia dengan teknologi, sekaligus menjadi gambaran meningkatnya persoalan kesepian di tengah masyarakat modern Jepang.

Exit mobile version