Tips Sehat Manula

Cegah Demensia pada Lansia, Olahraga Perlu Dipadukan dengan Aktivitas yang Menyenangkan

44
Lansia melakukan olahraga ringan untuk menjaga kesehatan otak dan mencegah demensia
Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan dapat membantu lansia menjaga kebugaran serta mendukung kesehatan otak.

Golansia.com – Perubahan daya ingat pada lanjut usia sering dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses penuaan. Padahal, ketika lansia mulai sering lupa, kehilangan orientasi, atau mengalami kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan tidak selalu bisa dianggap sebagai hal yang wajar.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan otak adalah mempertahankan aktivitas fisik secara rutin. Olahraga tidak hanya bermanfaat bagi kekuatan otot dan kesehatan jantung, tetapi juga berperan dalam mendukung fungsi otak serta menjaga kemampuan kognitif pada usia lanjut.

Spesialis kedokteran olahraga dari Eminence Sports Medicine Center, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K), menyebutkan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi salah satu bentuk investasi kesehatan untuk menjaga fungsi tubuh dan otak dalam jangka panjang.

Dalam keterangannya di Unika Atma Jaya Jakarta pada Rabu (30/9/2026), dr. Andi menyampaikan bahwa orang yang rutin melakukan aktivitas fisik memiliki risiko demensia atau Alzheimer yang lebih rendah.

Mengapa olahraga penting untuk kesehatan otak lansia?

Aktivitas fisik membuat tubuh bekerja lebih aktif, termasuk sistem kardiovaskular. Ketika seseorang bergerak, jantung memompa darah dengan lebih optimal sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi berbagai organ, termasuk otak, dapat terpenuhi.

Otak memang hanya menyumbang sebagian kecil dari berat tubuh manusia, tetapi membutuhkan pasokan darah dan oksigen yang tinggi untuk menjalankan berbagai fungsi, mulai dari berpikir, mengingat, berkonsentrasi hingga mengendalikan gerakan.

Menurut dr. Andi, peningkatan aliran darah selama aktivitas fisik menjadi salah satu alasan olahraga penting bagi kesehatan otak.

“Ketika kita bergerak, itu baru aliran darah kita ke otak dan di situlah mengantarkan oksigen. Jadi oksigenasi atau kardio buat otak itu sangat penting.”

Selain mendukung sirkulasi, aktivitas fisik juga membantu menjaga kesehatan pembuluh darah. Hal ini penting karena gangguan kesehatan vaskular serta penyakit seperti hipertensi dan diabetes diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kognitif dan demensia.

Dengan demikian, menjaga tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, serta kesehatan jantung melalui gaya hidup aktif juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan otak.

Berapa lama lansia perlu berolahraga?

Kebutuhan aktivitas fisik setiap lansia tidak selalu sama. Kondisi kesehatan, kemampuan fisik, usia, riwayat penyakit, hingga kemampuan kognitif perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan jenis dan intensitas olahraga.

Pada lansia yang secara umum masih sehat, aktivitas fisik aerobik dengan intensitas sedang dapat dilakukan secara rutin dengan target sekitar 150 menit dalam satu minggu, sesuai kemampuan dan rekomendasi kesehatan yang berlaku.

Jenis aktivitasnya tidak harus berupa olahraga berat. Lansia dapat memilih kegiatan yang lebih mudah dilakukan, seperti:

  • Jalan kaki atau jalan cepat.
  • Bersepeda dengan intensitas ringan hingga sedang.
  • Berenang.
  • Senam lansia.
  • Latihan kekuatan dengan beban ringan.
  • Aktivitas rumah tangga yang membuat tubuh tetap bergerak.

Latihan kekuatan juga penting untuk membantu mempertahankan massa dan fungsi otot. Seiring bertambahnya usia, kehilangan massa otot dapat meningkatkan risiko kelemahan tubuh dan gangguan keseimbangan.

Karena itu, program aktivitas fisik lansia idealnya tidak hanya berfokus pada kardio, tetapi juga mencakup latihan kekuatan, keseimbangan, dan fleksibilitas.

Lansia dengan gangguan memori membutuhkan pendekatan berbeda

Lansia yang sudah mengalami Mild Cognitive Impairment (MCI) atau gangguan kognitif ringan tetap dapat melakukan aktivitas fisik. Namun, bentuk latihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan, bila diperlukan, dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan.

Salah satu pendekatan yang menarik adalah menggabungkan aktivitas fisik dengan stimulasi kognitif.

Misalnya, lansia berjalan sambil melakukan aktivitas mental sederhana seperti menyebutkan nama buah, menghitung mundur, atau mengingat kata-kata tertentu.

Menurut dr. Andi, kombinasi gerakan dan aktivitas kognitif tersebut dapat membuat latihan menjadi lebih melibatkan fungsi otak.

Aktivitas seperti Tai Chi juga dapat menjadi pilihan bagi sebagian lansia karena melibatkan gerakan tubuh, koordinasi, keseimbangan, konsentrasi, dan pengaturan napas.

Namun, jenis olahraga tetap harus disesuaikan dengan kondisi individu. Lansia dengan penyakit tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk menentukan aktivitas yang aman.

Jangan memaksakan olahraga kepada lansia

Menjaga lansia tetap aktif bukan berarti memaksa mereka memenuhi target olahraga dalam kondisi tubuh yang tidak memungkinkan.

Pendamping perlu memperhatikan respons tubuh selama aktivitas. Jika lansia mengalami kelelahan yang tidak biasa, pusing, sesak napas, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, aktivitas sebaiknya dihentikan dan kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian medis.

Tujuan utama olahraga pada lansia bukan sekadar mengejar jumlah menit atau banyaknya kalori yang terbakar. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bergerak yang aman, konsisten, dan sesuai kemampuan.

Olahraga akan lebih bermanfaat jika dilakukan dengan gembira

Selain aspek fisik, suasana hati ketika melakukan aktivitas juga tidak kalah penting.

Neurolog sekaligus Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD, menekankan pentingnya unsur kesenangan dalam aktivitas lansia.

Menurutnya, aktivitas yang dilakukan dengan rasa terpaksa tidak ideal untuk membangun kebiasaan yang berkelanjutan. Lansia perlu mendapatkan pengalaman positif ketika bergerak agar mereka bersedia melakukannya secara rutin.

Misalnya, daripada memaksa lansia berjalan sendirian setiap pagi, keluarga dapat mengajaknya berjalan bersama, berkebun, melakukan senam ringan, menari, atau melakukan aktivitas lain yang memang disukai.

Aktivitas sederhana yang membuat lansia merasa senang dapat menjadi cara untuk menjaga mereka tetap aktif tanpa memberikan tekanan berlebihan.

Prof. Yuda menggambarkan bahwa aktivitas seperti berkebun sekalipun dapat menjadi kegiatan yang positif apabila dilakukan dengan perasaan nyaman dan menyenangkan.

“Kalau seandainya ada lansia menanam di kebun tapi dia sambil ngedumel, ya enggak ada gunanya kalau dari neurosains.”

Karena itu, keluarga tidak perlu menjadikan olahraga sebagai kewajiban yang kaku. Yang lebih penting adalah menemukan bentuk aktivitas yang disukai lansia sehingga mereka mau melakukannya secara konsisten.

Menjaga otak lansia membutuhkan lebih dari sekadar olahraga

Olahraga merupakan salah satu bagian dari gaya hidup sehat untuk mempertahankan fungsi tubuh dan otak. Namun, pencegahan demensia tidak cukup hanya dengan mengandalkan aktivitas fisik.

Kesehatan otak juga dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk pola makan, kualitas tidur, kesehatan jantung dan pembuluh darah, pengelolaan tekanan darah dan gula darah, aktivitas sosial, serta stimulasi mental.

Lansia juga perlu mendapatkan kesempatan untuk tetap berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan, membaca, belajar hal baru, melakukan aktivitas kreatif, maupun menjalankan kegiatan yang memberikan rasa bermakna.

Yang tidak kalah penting, keluarga sebaiknya tidak mengabaikan perubahan kemampuan berpikir atau daya ingat yang semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika gangguan memori semakin sering terjadi atau disertai perubahan perilaku dan kemampuan menjalankan aktivitas rutin, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak lansia bukan sekadar membuat mereka banyak bergerak. Aktivitas fisik yang aman, dilakukan secara konsisten, disertai stimulasi mental dan suasana yang menyenangkan, dapat menjadi bagian penting dari gaya hidup untuk mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.

Exit mobile version