WHO Nyatakan Dunia Pandemi Virus Corona

Indonesia sudah 34 Kasus dan 1 Meninggal

0
103
epidemic

WUJUDKAN GERAKAN NASIONAL CEGAH TUNTAS VIRUS CORONA

Dr.Hasto Wardoyo mengerahkan 1.000.000 lebih jejaring BKKBN bantu Case finding dan Menyuluh.

Oleh : Dr.Abidinsyah SIregar (Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Bangkok, Thailand/ Mantan Kapus Promkes Depkes/ Mantan Deputi Advokasi dan KIE BKKBN).

Kemarin, Rabu 11 Maret 2020 kita mendapat 2 berita “sangat penting” untuk Dunia.
PERTAMA, Indonesia melaporkan 1 orang positif imported COVID-19 (kasus No.25, WNA, Pr, 53 th, turis datang bersama keluarga) meninggal dunia di Bali saat dalam perawatan isolasi.

Disamping itu diumumkan pula kasus positif Indonesia bertambah menjadi 34 orang.

Berita KEDUA, Dirjen WHO Mr.TA.Ghebreyesus (yang pernah menjadi Menkes dan Menlu Rep.Ethiopia) kemarin rabu umumkan bahwa epidemi Virus Corona atau COVID-19 dinyatakan sudah level PANDEMI. (Dunia terakhir Pandemi tahun 2009 karena virus H5N1/ Flu Burung).

Dirjen WHO mengatakan keadaan ini harus dinyatakan sebagai Pandemi karena keprihatinan atas cepat dan parahnya penyebaran virus.
Time.com melaporkan WHO bersikap karena sudah 118.000 orang terpapar positif dan menjangkau lebih 110 Negara dengan kematian lebih 4.600 org.
Putra Benua Afrika itu menegaskan “saatnya semua Sektor dan semua orang SIAP dan TERLIBAT bergerak mencegah virus”

Kini tiap Negara sibuk menjalankan protokol cegah virus yang ketat. Beberapa Negara beresiko menerapkan shutdown approach, tutup semua gerbang masuk ke Negaranya.

BAGAIMANA INDONESIA?
Bapak Presiden sudah terdengar himbauannya melalui RRI menyampaikan pesan. Demikian pula Menkes. Kita apresiasi kepada Gubernur DKI menunda balap Formula E dan menyusun Skenario jika keadaan makin buruk. PB NU menunda Mubes NU. Beberapa Gubernur melakukan Rakor kesiapan menghadapi Virus Corona. Banyak Bupati/Walikota juga melakukan konsilidasi .

Banyak hotel menggunakan thermal scanner bagi semua tamu yang masuk, dan melarang masuk yang suhu badan diatas 38 derajat C.

Saya surprise ketika Kepala BKKBN Dr.Hasto Wardoyo “membocorkan” inisiatif nya untuk menggerakkan 15.000 lebih Penyuluh KB yang ada di Kecamatan dan lebih 1.000.000 orang Kader PPKBD yang ada di semua desa sebagai informan, penggerak, penyuluh sekaligus melaksanakan “case finding” atau penemu kasus yang dicurigai terpapar virus agar cepat ditangani Petugas Kesehatan setempat.

BALI juga semakin sigap pasca kasus meninggal. Dari RRI Pro3FM pagi tadi kita mendapat khabar 21 orang yang sempat kontak dengan kasus positif meninggal sejak tiba di Bali pada 29 Februari yl telah diliburkan untuk menjalani fase karantina, termasuk Petugas hotel dan room services. Kedubes Inggris di Jakarta membenarkan pasien positif Corona yang meninggal adalah warganya, berlibur di Bali bersama suami dan 4 orang anaknya.

ADA KEPRIHATINAN DAN WASWAS
Informasi dari rekan2 saya yang mau bekerja pagi ini menggunakan transport umum dan yang mau dinas luar menggunakan jasa penerbangan menginfokan BELUM ADA pengumunan lisan dan tulisan. Tidak terlihat adanya petugas pengawas yang melakukan thermal scanner dan memberi Masker untuk masyarakat yang batuk/flu.
Demikian pula dalam Bus, KA dan Pesawat.

WASPADA DAN SIAGA
Sesuai informasi Juru Bicara Negara urusan COVID-19 Bung Achmad Yurianto/Dirjen P2P Kemenkes, jelas mengungkapkan bahwa banyak kasus imported (dibawa dari luar Indonesia melalui WNI dan WNA).
Dan ada pula kasus yang positif namun belum ditemukan manusia sumber penularan.

Penelitian Wu dan Googan (Februari 2020) dari 72.000 kasus positif, yang paling beresiko sakit dan mati adalah usia 30-75 th (87%). Dan akan semakin terancam jika mengidap penyakit kronis seperti Penyakit Jantung, Paru, Diabetes, dan Hipertensi.
Pengalaman penulis 6 tahun sebagai Komisioner KPHI menemukan bahwa orang dewasa Indonesia lebih 60% punya faktor resiko penyakit tidak menular yang cukup berat dan lebih dari 1 penyakit. Terutama penyakit Jantung dan Pernafasan.

APA LANGKAH MANAGEMENT DISASTER YANG PERLU SEGERA DILAKUKAN?

Dalam situasi Nasional yang beresiko dan untuk merespons Kebijakan WHO menetapkan Pandemi, maka Indonesia harus melakukan GERAKAN NASIONAL TERPADU.

Penulis menyarankan sbb:

  1. Bentuk Task Force COVID-19 lintas sektor dalam Komando langsung bapak Presiden. Untuk Day by Day akan lebih tepat
    menugaskan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk mengkordinir seluruh Sekjen dan Sestama Kementerian/Lembaga terkait serta Sekjen Ormas Besar termasuk Keagamaan karena mereka atas izin pimpinan memiliki akewenangan dalam pengerahan SDM, logistik dan anggaran.
    Juru Bicara tetap dipegang Kemenkes RI.
  2. Tim SURVEILANS di mobilisasi untuk melakukan penelusuran contact case dan case finding. Sekalipun virus ini Self limited disease alias bisa sembuh sendiri. Namun perpindahan virus aktif antar manusia harus ditemukan dan diputus perkembangannya. Daya tahan/endogen manusia berupa imunitas terhadap virus dapat ditingkatkan dg makanan bergizi baik mengandung protein tinggi dan vitamin C.
  3. Libatkan Epidemiolog dan Mikrobiolog untuk kajian pemetaan dan stadium infeksi, mulai dari tahap RENTAN, INKUBASI, SAKIT, PENYEMBUHAN atau MATI. Dari para Ahli ini kita bisa mendapat Rekomendasi tindakan sosial, medik dan karantina. Juga bisa memetakan Daerah aman dan Negara aman. Sehingga kebijakan mobilitas manusia bisa di atur, dengan argumentasi yang cerdas dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Lima Protokol Utama Penanganan COVID-19 yang dipublikasikan KSP yi di Pengawasan Perbatasan, Area Pendidikan, Transportasi dan Area Publik, Komunikasi dan Protokol Penanganan Kesehatan SEHARUSNYA SUDAH DIJALANKAN dan di tanggungjawabi oleh K/L leading sectornya.
  5. Buka lebar Komunikasi dan Edukasi untuk mendapat dukungan Partisipasi aktif masyarakat. Peningkatan Kesadaran dan Ketenangan masyarakat sangat penting cegah panik. Pesan Presiden lisan dan tulisan dipublikasikan berulang setiap saat melalui media TV, Radio, Koran, juga di bioskop/ theater.
  6. Lembar bergambar/poster tentang VIRUS COVID-19 harus berstandard dan jelas pesannya serta jelas pula Target sasarannya seperti untuk Lansia, pekerja, pedagang dan anak sekolah yang tentu ada bedanya.

Jika kita browsing google tampak TERLALU BANYAK POSTER PESAN COVID-19. Isi pesan, gambar dan warna harus Fokus (yang harus mudah dicerna dan mendorong tujuannya agar muncul partisipasi).

MARI BEKERJASAMA DAN SAMA-SAMA BEKERJA TUNTAS CEGAH TUNTAS VIRUS COVID-19 DARI BUMI INDONESIA.

Mengakhiri tulisan ini, ingat lah pesan Dirjen WHO : “*saatnya semua Sektor dan semua orang SIAP dan TERLIBAT mencegah virus COVID-19*”

Jakarta, 12 Maret 2020
Dr.Abidin/GOLansia.com.

#silahkan share untuk Indonesia dan jalan amaliah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here