Perubahan dan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Lansia

Seiring berjalannya waktu Manula akan mengalami perubahan anatomik

0
763
manula

Setiap orang pasti akan mengalami yang namanya masa lanjut usia atau lansia. Orang yang diberikan berkah yang lebih dihidupnya akan mengalami hidup yang cukup panjang. Mengalami masa lansia tentu merupakan hal yang tidak mudah, karena seiring bertambahnya usia maka penyakit dan gangguan-gangguan pada tubuh akan semakin banyak. Pada lansia seringkali mengeluhkan penyakit-penyakit yang kerapkali mengganggu aktivitas sehari-hari anda. Misalkan penyakit kepala, penyakit tulang, dll. Semua itu cukup mengganggu aktivitas anda sehari-hari apabila mengalaminya secara terus-menerus.

Bukan hanya penyakit saja yang terkadang menyerang masa lansia, mengalami gangguan-gangguan pada sistem pernafasan pun terkadang sering dialami oleh lansia. Pada usia lanjut biasanya akan terjadi perubahan anatomi-fisiologi dan dapat menimbulkan penyakit-penyait pada sistem pernafasan. Hal ini tentu akan sangat mengganggu aktivitas anda mengingat bernafas merupakan hal yang penting dalam hidup. Mengalami perubahan dan gangguan sistem pernafasan pada masa lansia merupakan hal yang perlu diwaspadai sejak dini.

Sistem pernafasan memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan, karena fungsi pernafasan mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbondioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Sedangkan manusia membutuhkan supply oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut. Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung.

Pada usia lanjut terjadi perubahan-perubahan anatomik yang mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ yang bersangkutan. Berikut yang mengalami perubahan :

  1. Dinding dada : tulang-tulang mengalami osteoporosis, tulang-tulang rawan mengalami osifikasi, terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relative mengecil dan volume rongga dada mengecil.
  2. Otot-otot pernafasan : mengalami kelemahan akibat atrofi.
  3. Saluran nafas : akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis bronkus dan alveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cincin-cincin tulang rawan bronkus mengalami perkapuran.
  4. Struktur jaringan parenkrim paru : bronkiolus, duktus alveolaris dan alveolus membesar secara progresif, terjadi emfisema senilis. Struktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga menyebabkan elastisitas jaringan parenkrim pam mengurang. Penurunan elastisitas jaringan parenkrim paru pada usia lanjut dapat karena menurunnya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permukaan alveolus.

Perubahan-perubahan anatomi di atas dapat menyebabkan gangguan fisiologi pernafasan sebagai berikut :

  1. Gerak pernafasan : adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika pernafasan menjadi dangkal, timbul gangguan sesak nafas, lebih-lebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan.
  2. Distribusi gas : perubahan struktur anatomik saluran nafas akan menimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air trapping) ataupun ganggan pendistribusian gangguan udara nafas dalam cabang bronkus.
  3. Volume dan kapasitas paru menurun : hal ini disebabkan karena beberapa faktor : (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkrim menurun, (3) resistensi saluran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru.
  4. Gangguan transport gas : pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, penyebabnya terutama disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan ventilasi-perifusi.

Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah alveoli (difusi) dan transport O2 ke jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olahraga. Penurunan pengambilan O2 maksimal disebabkan antara lain karena :

  1. Berbagi perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas
  2. Karena berkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnya curah jantung.
  3. Gangguan perubahan ventilasi paru : pada usia lanjut terjadi gangguan pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penurunan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral ataupun pusat-pusat pernafasan di medulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penuruan PaO2, peninggian PaCO2, perubahan pH darah arteri dan sebagainya.

Selain perubahan-perubahan anatomik dan gangguan yang terjadi pada sistem pernafasan pada lansia, perubahan fisik sistem pernafasan pada lansia pun akan terjadi. Berikut perubahan fisik sistem pernafasan pada lansia :

  1. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
  2. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
  3. Penurunan aktivitas paru (mengembang dan mengempisnya) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk ke paru mengalami penurunan, jika pada pernafasan yang tenang kira-kira 500 ml.
  4. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang (luas permukaan normal 50 m2), menyebabkan terganggunya proses difusi.
  5. Penurunan oksigen (O2) arteri menjadi 75 mmHg mengganggu proses oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut ke semua jaringan.

Demikian artikel mengenai perubahan dan gangguan sistem pernafasan pada lansia. Semoga bermanfaat bagi anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here