Osteoporosis Lansia Pasca Menopause? Cegah Dengan Beberapa Hal Penting Ini

0
118
osteoporosis

Menopause menjadi salah satu hal yang akan terjadi pada setiap wanita. Pada fase ini, wanita yang biasanya mendapati siklus bulanan rutin berupa menstruasi, tidak akan mengalaminya lagi. Hal ini tak dapat dipisahkan dengan aktifitas organ reproduksi seksual wanita, yaitu ovarium.

Ovarium menjadi salah satu bagian penting organ reproduksi yang menjamin setiap wanita akan mengalami siklus menstruasi. Pada ovarium inilah sel telur di produksi dan disimpan. Dan pada masa subur, sel telur yang dibuahi akan bermigrasi ke Rahim dan berkembang menjadi embrio, sebaliknya, jika tak terjadi pembuahan, maka sel-sel telur tersebut akan mati dan meluruh dan terjadilan menstruasi.

Selain menjalankan tugasnya sebagai alat reproduksi, ovarium juga bertindak sebagai pabrik hormone. Seridaknya ada dua hormone penting pada wanita yang dihasilkan oleh ovarium. Yaitu hormone estrogen dan progesterone. Fungsinya saling mendukung dan berkaitan satu sama lain. Dan kedua hormone ini masih akan tetap aktif berproduksi selama ovarium masih bekerja dengan baik.

Tiga Fase Penting Dalam Menopause

menopause

Setiap wanita memiliki sepasang ovarium atau indung telur yang mulai aktif memproduksi sel-sel telur sejak wanita menginjak usia remaja. Sebetulnya, sel-sel telur yang terdapat pada ovarium ini telah ada sejak wanita lahir. Namun, mulai matang ada usia puber.

Jumlahnya pun terbatas. Inilah yang menjadi salah satu penyebab, mengapa wanita yang satu dengan yang lain bisa jadi mengalami fase menopause pada usia yang berbeda-beda.
Saat stok sel telur yang terdapat dalam ovarium telah habis, maka saat inilah wanita mengalami menopause. Sebelumnya, aka nada tanda-tanda awal menjelang menopause, sekitar 1 sampai dua tahun sebelum siklum menstruasi itu benar-benar terhenti. Selain secara alamiah, menopause nyatanya juga dapat terjadi pada wanita dengan alasan lain.

Seperti, tindakan operasi pengangkatan Rahim maupun ovarium, kemoterapi, atau terjadinya kerupasakan yang terjadi pada ovarium.

Secara normal, menopause terjadi pada rentang usia 45-50 tahun. Namun, bukan tak mungkin wanita akan mengalaminya lebih awal yang seringkali juga disebut dengan menopause dini. Lalu, fase apa saja yang berkaitan dengan menopause?
Perimenopause

Ini adalah fase yang mengawali masa-masa menopause. Pada fase inilah beberapa tanda-tanda menjelang menopause mulai tampak. seperti siklus mentruasi yang mulai berubah dan tidak teratur. Menopause juga mengakibatkan terjadinya perubahan hormone kesuburan. dan hal ini ternyata juga mempengaruhi beberapa hal menjelang datangnya menopause. Seperti produksi lendir pada vagina yang mulai berkurang, sehingga beberapa wanita merasakan vagina yang kering. Lalu, penurunan fungsi hormone estrogen juga dapat menurunkan kemungkinan untuk hamil. Meskipun, selama sel-sel telur masih dapat diproduksi, tentu setiap wanita masih memiliki kesempatan untuk hamil, walaupun kecil.

Menopause

Menopause benar-benar telah dinyatakan terjadi jika seorang wanita tak mengalami menstruasi minimal selama satu tahun penuh. Menopause erat kaitannya dengan fungsi ovarium. Pada fase ini, ovarium benar-benar telah tutup produksi. Baik untuk mengeluarkan sel telur, maupun memproduksi hormone estrogen dan progesteron. Hal tentu saja memberikan dampak tertentu bagi wanita. Salah satunya adalah perubahan emosi secara drastic. Jadi, ketika Ibu Anda sedang mengalami fase ini, jangan heran jika seringkali mengalami mood swing. Dimana seseorang akan dapat tiba-tiba marah, emosi, bahkan menangis. Hal ini juga dibarenngi dengan kesulitan tidur, lebih cepat lelah dan detak jantung yang tak beraturan.

Postmenopause

Setelah fase inti, menopause, berikutnya yang perlu diwaspadai adalah fase postmenopause. Fase ini terjadi setelah satu tahun terjadinya menopause. Pada fase ini, ada beberapa perubahan pada tubuh yang terkait dengan kesehatan wanita. Seperti kepadatan tulang dan gigi.
Ternyata, hormone estrogen yang diproduksi oleh ovarium dapat mempengaruhi kepadatan tulang pada wanita. Saat menopause terjadi, ovarium pun berhenti memproduksi hormone estrogen. Dan hal ini tentu saja ikut mempengaruhi kualitas tulang dan gigi pada wanita. Tak heran, jika wanita yang telah mengalami menopause lebih rentan terkena esteoiporosis.

Kadar estrogen yang menurun juga dapat menurunkan kadar kolagen. Padahal, kolagen memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Tak heran, pada wanita yang telah memasuki fase menopause, akan mengalami beberapa masalah pada kulit. Seperi kulit yang kering, kehilangan elastisitas, hingga perubahan warna kulit. Namun, hal ini dapat diminimalisir dengan memperbaiki pola makan.

Mengatasi Osteoporosis yang Mengikuti Fase Menopause

Wanita konon memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mengalami osteoporosis jika dibandingkan dengan pria. Hal ini tentu saja disebabkan oleh menurunnya hormone estrogen yang terjadi setelah menopause. Seperti kolagen, hormone estrogen juga memiliki tugas yang sama yakni untuk menjaga jaringan ikat. Hal ini, tak hanya dapat menyebabkan pengeroposan tulang atau osteoporosis saja, tapi juga dapat meningkatkan resiko tanggal gigi dan masalah pada kesehatan gusi.

Untuk meminimalisir dampak osteoporosis, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Pertama adalah dengan meningkatkan konsumsi asupan makanan yang mengandung vitamin D. untuk itu, diperlukan asupan Vitamin D sebanyak 1200 mg setiap harinya, yang bisa didapatkan dari susu, sayuran hijau, dan multivitamin. Selain itu, beberapa aktifitas fisik juga dapat dilakukan secara rutin, untuk mengurangi dampak osteoporosis. Salah satu tips utama dalam melakukan aktifitas fisik adalah jangan berlebihan. Aktifitas fisik yang dilakukan oleh lansia, selain dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan, juga dapat memberikan resiko yang buruk, jika tak dilakukan dengan tepat. Untuk itu, aktifitas fisik berupa olahraga tak boleh dilakukan secara mendadak, tergesa-gesa dan secara berlebihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here