Lima Srikandi Pejuang Keluarga

0
54

Penulis : Khairunnas, S.HI., MM.
(Penyuluh KB Ahli Muda BKKBN )

Golansia.com – Berkisah tentang lima orang ibu rumah tangga yang hadir bak seorang srikandi, namun ini bukan tentang kisah Srikandi dalam wiracarita Mahabharata, yang lahir sebagai reinkarnasi Dewi Amba, untuk membunuh Bisma. Ini juga bukan tentang Srikandi yang konon bersifat androgini, memiliki karakter maskulin dan feminim secara bersamaan. Ini adalah tentang sekelompok ibu rumah tangga yang berjuang membantu kesejahteraan keluarga. Mereka bukan sosok-sosok mitologi dalam cerita pewayangan, tetapi wujud nyata dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tidak hanya saya, mungkin Anda juga sering menjumpai kehadiran mereka. Tidak hanya di perkotaan, tapi juga sampai ke pelosok desa. Pekerjaan mereka berbagai macam, mulai dari guru, pekerja kantoran, buruh pabrik, petani, pedagang pasar, hingga asisten rumah tangga. Mereka bekerja tidak kalah hebatnya dari kaum Adam, meskipun secara bersamaan mereka juga harus mengurus rumah tangga.

Mereka adalah istri dari suaminya, dan ibu dari anak-anaknya. Mereka menjalankan dua profesi sekaligus, bekerja mencari nafkah dan mengurus kehidupan rumah tangga.

Mereka adalah istri dari suaminya, dan ibu dari anak-anaknya. Mereka menjalankan dua profesi sekaligus, bekerja mencari nafkah dan mengurus kehidupan rumah tangga. Kedua pekerjaan itu mereka jalankan dengan baik dan nyaris sempurna. Tidak ada pekerjaan rumah tangga yang selesai tanpa kehadiran seorang ibu. Dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang bekerja membantu kehidupan ekonomi keluarga, bahkan sebagian ada yang menjadi tulang punggung keluarga.

Di peringatan Hari Perempuan se-dunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2022 ini, saya ingin mengisahkan sosok-sosok perempuan tangguh pejuang keluarga. Memang, belum ada sesuatu yang spektakuler yang mereka lakukan. Tetapi melihat tekad dan semangatnya, saya yakin, kehadiran mereka bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lainnya. Tidak hanya itu, sosok mereka juga bisa menjadi renungan bagi kaum Adam, agar lebih menghormati kaum perempuan.

Saya berjumpa pertamakali dengan mereka di kegiatan pelatihan kewirausahaan menjahit yang diselenggarakan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Bogor. Saat itu, saya diundang sebagai narasumber untuk materi tentang pemasaran. Meski ilmu saya tidak terlalu banyak, tetapi pengalaman saya di masa lalu yang pernah berdagang, cukup untuk berbagi cerita dengan mereka. Apalagi, saya juga menghadirkan seorang kawan, pedagang tanah Abang, untuk memberikan inspirasi pada mereka.

Selepas pelatihan, komunikasi saya terus berlanjut dengan mereka. Semula, saya berharap, keterampilan menjahit dan mesin yang diberikan secara gratis pada mereka cukup menjadi modal untuk memulai usaha konveksi atau vermak. Namun, dugaan saya meleset. Memulai usaha tidak cukup hanya dengan modal dan keterampilan saja, tetapi juga butuh mental yang kuat, gigih, dan berani mengambil resiko.

Saya kemudian menawarkan kepada mereka untuk membuat kelompok usaha konveksi bersama, dan menjanjikan saya yang akan menjadi tenaga pemasarannya. Namun setelah melakukan survei pasar serta menganalisa kondisi keseharian mereka, maka rencana inipun dibatalkan. Secara teknis, mereka tidak bisa bekerja seperti layaknya di konveksi, 7-8 jam sehari, karena harus mengurus rumah tangga. Selain itu, harga jasa konveksi juga sangat murah. Mereka tidak akan mampu bersaing dengan penjahit-penjahit dari Tasikmalaya, Tegal ataupun Pekalongan.

Setelah cukup lama berdiskusi, kami kemudian memutuskan untuk melakukan aktivitas di hilir saja, yang penting bisa memperoleh penghasilan, yaitu menjual produk-produk konveksi. Kami memutuskan untuk berjualan pakaian muslim. Sejak itu, usaha berjualan pakain muslim ini pun mulai kami lakukan. Saya berperan sebagai pemodal, belanja barang, dan mencari produk-produk yang sedang laku di pasaran. Sementara mereka menjadi penjual atau resseler, tanpa modal, dan hanya berkewajiban membayar setiap produk yang laku setelah dikurangi keuntungan untuk mereka. Dari 30-an peserta pelatihan, ada 4 orang yang terus konsisten berjualan sampai saat ini.

Cita-cita Menjadi Bidan
Pertama, namanya Siti Hajariat atau yang akrab dipanggil Teh Siti. Umurnya masih muda, sekitar 30-an. Memiliki dua anak perempuan yang cantik-cantik. Putri sulungnya yang masih kelas 4 SD punya cita-cita menjadi bidan. Teh Siti bertekad untuk menabung sejak dini demi membiayai pendidikan anaknya kelak. Melihat semangat dan keyakinannya, saya optimis, kelak anaknya akan berhasil mencapai cita-citanya. Keuletannya dalam berjualan patut diacungi jempol. Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari. Meski suaminya bekerja dan punya penghasilan lumayan, tetapi tekadnya untuk membantu kesejahteraan keluarga dan membiayai pendidikan anak terpancar kuat dari sorot matanya.

Semangat Berniaga
Kedua, namanya Siti Sa’diyah, akrab dipanggil Teh Sa’diyah. Umurnya juga masih muda, sekitar 30-an. Memiliki dua orang anak, yang kecil masih bayi dan yang sulung telah mulai masuk sekolah. Suaminya bekerja dan punya penghasilan lumayan. Namun semangatnya untuk berjualan tidak kalah dengan Teh Siti. Setiap ada produk baru, dia selalu minta dikirimkan gambarnya, untuk ditawarkan kepada calon customer. Teh Sa’diyah sebenarnya seorang sarjana, jebolan sebuah universitas terkemuka di Bogor. Namun dia memilih jadi ibu rumah tangga agar dapat mengasuh anaknya sendiri. Dia bercita-cita memiliki lapak online sendiri agar bisa bekerja dari rumah.

Suaminya Meninggal Dunia
Ketiga, namanya Rohaya. Sosok yang satu ini sering membuat saya geleng-geleng kepala. Orangnya labil, mungkin karena suaminya baru meninggal. Namun mendengar kisahnya, saya juga salut padanya. Sebelum meninggal, suaminya sakit-sakitan dan tidak punya penghasilan. Bu Rohaya terpaksa bekerja jadi asisten rumah tangga, sebuah profesi yang terus dilakoninya sampai saat ini. Bu Rohaya masih memiliki anak usia SD yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. Meski jualannya tidak serajin Teh Siti dan Teh Sa’diyah, tetapi saya melihat semangatnya yang kuat agar tetap survive. Dia sadar, sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, dia harus melakukan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya kelak.

Nasi Kuning Andalan
Keempat, namanya Bu Baid. Sehari-hari dia berjualan nasi kuning di dekat sebuah sekolah SDN di Cibinong. Meski punya keterbatasan karena masih dalam proses penyembuhan setelah operasi, tetapi sekuat tenaga dia tetap aktif berjualan. Seringkali dia tidak bisa berkumpul dengan teman-temannya yang lain untuk berdiskusi, karena tidak memiliki motor sebagai alat transportasi. Bu Baid punya anak-anak yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan. Dia bertekad membantu suaminya yang berprofesi sebagai pelatih IT untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Keahlian Menjahit
Kelima, ini adalah sosok spesial. Dia bukan alumni pelatihan kewirausahaan menjahit. Namanya bu Srikiswati, akrab dipanggil Bu RW. Ya, suaminya memang menjabat sebagai RW di Kelurahan Karadenan, Cibinong. Bersama suaminya, dia mengelola berbagai usaha, mulai dari toko kelontong, lapak barang rongsok, nasi uduk dan lontong sayur di pagi hari, hingga kedai kopi dengan berbagai aneka makanannya di malam hari. Bu Srikiswati adalah sosok ibu rumah tangga yang tangguh dalam berusaha. Setiap berbicara tentang peluang bisnis, dia selalu menanggapinya dengan serius. Kini, dia punya usaha sampingan baru, yaitu berjualan pakaian muslim, di tengah kesibukannya.

Kelima sosok perempuan ini adalah Srikandi-Srikandi era modern, pejuang kesejahteraan keluarga. Di tangan mereka, tidak hanya urusan rumah tangga yang selesai dengan baik, tetapi juga meningkatnya ekonomi keluarga. Selamat Hari Perempuan Se Dunia.

Baca Berita Seputar Kesehatan dan Kesehatan Lansia Lainnya www.golansia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here