Golansia.com — Perut kembung, sering bersendawa, mual, atau cepat kenyang setelah makan kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Namun, jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, memburuk, atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan.
Gejala-gejala tersebut memang tidak selalu menandakan kanker. Meski demikian, keluhan itu termasuk tanda yang dapat muncul pada kanker lambung, penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di dunia.
Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2024 yang dipublikasikan pada 2026 memperkirakan terdapat 980.286 kasus baru kanker lambung di seluruh dunia, dengan sekitar 641.554 kematian pada tahun yang sama. Angka tersebut menempatkan kanker lambung di urutan kelima untuk jumlah kasus baru sekaligus kematian akibat kanker secara global.
Besarnya beban penyakit ini menjadi pengingat pentingnya mengenali gejala dan memahami faktor risikonya. Tantangannya, kanker lambung pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Ketika gejala muncul, tandanya pun dapat menyerupai penyakit pencernaan lain.
Gejala Awal Kanker Lambung yang Perlu Dikenali
Menurut National Health Service (NHS) Inggris, gejala kanker lambung dapat memengaruhi sistem pencernaan dan terkadang sulit dibedakan dari gangguan lain, termasuk refluks asam lambung. National Cancer Institute (NCI) Amerika Serikat juga menjelaskan bahwa kanker lambung pada tahap awal umumnya belum menimbulkan gejala yang jelas.
Berikut sejumlah gejala yang perlu diperhatikan.
1. Gangguan pencernaan dan sering bersendawa
Gangguan pencernaan dapat berupa rasa tidak nyaman di perut bagian atas, perut terasa penuh, atau sering bersendawa. Keluhan ini cukup umum dan lebih sering disebabkan oleh kondisi selain kanker.
Namun, jika gangguan pencernaan terus berulang, berbeda dari biasanya, atau tidak membaik dengan penanganan yang biasa dilakukan, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan.
2. Cepat kenyang meski baru makan sedikit
Merasa kenyang setelah makan dalam porsi kecil merupakan salah satu gejala yang dapat muncul pada kanker lambung. Keluhan ini perlu diperhatikan jika terjadi berulang dan membuat jumlah makanan yang dikonsumsi semakin berkurang.
3. Mual dan muntah
Mual dapat muncul pada tahap awal, sedangkan muntah juga dapat terjadi seiring perkembangan penyakit. Meski demikian, kedua gejala ini memiliki banyak kemungkinan penyebab sehingga tidak bisa langsung dikaitkan dengan kanker lambung.
4. Kesulitan menelan
Kesulitan menelan merupakan gejala yang perlu diperiksakan, terutama jika semakin berat atau membuat seseorang kesulitan makan dan minum. Jangan menunda pemeriksaan ketika keluhan ini muncul.
5. Nafsu makan menurun
Seseorang mungkin mulai kehilangan selera makan atau tidak lagi menikmati makanan seperti biasanya. Jika kondisi ini berlangsung lama, asupan nutrisi dapat berkurang dan berat badan berpotensi turun.
6. Berat badan turun tanpa disengaja
Penurunan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik perlu diwaspadai. NHS memasukkan penurunan berat badan tanpa disengaja sebagai salah satu gejala yang memerlukan pemeriksaan apabila dicurigai berkaitan dengan kanker lambung.
7. Nyeri di perut bagian atas
Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bagian atas dapat menjadi gejala kanker lambung. Keluhan ini juga bisa disebabkan oleh gangguan lain, tetapi perlu diperhatikan jika menetap, memburuk, atau muncul bersama gejala lain.
8. Tubuh mudah lelah
Rasa lelah berkepanjangan atau berkurangnya energi dapat menyertai kanker lambung. Pada sebagian pasien, perdarahan di saluran pencernaan juga dapat menyebabkan anemia, yang membuat tubuh terasa lemah dan mudah lelah.
9. Tinja berwarna lebih gelap
Tinja yang berwarna hitam seperti aspal dapat menjadi tanda perdarahan di saluran pencernaan bagian atas. Kondisi ini tidak boleh diabaikan, terutama jika disertai pusing, lemas, atau muntah darah, dan memerlukan pertolongan medis segera.
Daftar gejala tersebut sejalan dengan informasi NHS dan National Cancer Institute. Kedua lembaga menekankan bahwa gejala kanker lambung dapat menyerupai gangguan lain dan perlu dinilai berdasarkan kondisi pasien secara keseluruhan.
Empat Jenis Kanker yang Dapat Berkembang di Lambung
Kanker lambung tidak hanya terdiri dari satu jenis. Klasifikasinya bergantung pada jenis sel atau jaringan tempat kanker bermula.
1. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma merupakan jenis kanker lambung yang paling umum. Kanker ini berkembang dari sel kelenjar yang melapisi bagian dalam lambung.
2. Tumor stroma gastrointestinal (GIST)
Gastrointestinal stromal tumor atau GIST berkembang dari sel khusus pada dinding saluran pencernaan. Tumor ini termasuk kelompok sarkoma jaringan lunak dan dapat tumbuh di lambung maupun bagian lain saluran pencernaan.
3. Tumor neuroendokrin
Tumor neuroendokrin berasal dari sel yang memiliki karakteristik sel saraf sekaligus sel penghasil hormon. Tumor jenis ini dapat muncul di berbagai organ, termasuk lambung.
4. Limfoma lambung
Limfoma lambung berasal dari sel sistem kekebalan tubuh yang tumbuh secara tidak terkendali di jaringan lambung. Jenis ini berbeda dari adenokarsinoma karena asal selnya tidak sama.
Perbedaan jenis kanker tersebut penting karena diagnosis dan penanganannya bergantung pada karakteristik penyakit. Pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk menentukan jenis kanker secara tepat.
Apa yang Meningkatkan Risiko Kanker Lambung?
Salah satu faktor risiko utama kanker lambung adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori. Bakteri ini dapat menyebabkan peradangan kronis pada lapisan lambung. Dalam jangka panjang, perubahan jaringan akibat peradangan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker pada sebagian orang.
National Cancer Institute menjelaskan bahwa infeksi H. pylori kronis merupakan faktor risiko penting kanker lambung. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi akan mengalami kanker. Pengobatan untuk memberantas infeksi tersebut juga dapat menurunkan risiko kanker lambung pada kelompok tertentu.
Selain infeksi, beberapa faktor lain yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung meliputi:
- Kebiasaan merokok, yang meningkatkan risiko kanker lambung dibandingkan tidak merokok.
- Pola makan tertentu, terutama konsumsi makanan yang banyak mengandung garam atau makanan yang diasinkan, diasap, maupun diawetkan secara kurang tepat.
- Riwayat keluarga, khususnya jika terdapat anggota keluarga dekat yang pernah mengalami kanker lambung.
- Kondisi medis tertentu, seperti peradangan kronis dan perubahan pada lapisan lambung.
Faktor-faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Sebaliknya, kanker lambung juga dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki faktor risiko yang diketahui. Karena itu, mengenali faktor risiko penting untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan untuk menentukan diagnosis sendiri.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga memasukkan infeksi Helicobacter pylori sebagai salah satu infeksi yang dapat meningkatkan risiko kanker lambung dalam materi edukasi mengenai kanker.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Mengalami perut kembung, mual, atau sering bersendawa tidak otomatis berarti seseorang menderita kanker lambung. Gejala-gejala tersebut jauh lebih sering berkaitan dengan kondisi pencernaan lain.
Namun, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan jika keluhan terus berulang, semakin berat, atau tidak membaik setelah sekitar tiga minggu. NHS juga menyarankan pemeriksaan apabila seseorang mengalami kesulitan menelan, benjolan di perut, atau penurunan berat badan tanpa disengaja.
Jika mengalami muntah darah, tinja hitam seperti aspal, atau pusing dan lemas berat yang dapat berkaitan dengan perdarahan, segera cari pertolongan medis.
Dokter akan menilai gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko pasien. Jika diperlukan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan, termasuk endoskopi saluran cerna bagian atas untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung. Dokter juga dapat mengambil sampel jaringan atau biopsi apabila menemukan bagian yang mencurigakan.
Kanker lambung tidak selalu menunjukkan gejala yang khas pada tahap awal. Karena itu, keluhan pencernaan yang menetap atau berubah dari kebiasaan sebelumnya perlu diperhatikan, terutama jika disertai penurunan berat badan, kesulitan menelan, atau tanda perdarahan. Pemeriksaan medis bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker, tetapi dapat membantu menemukan penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.(DBS)
