Hari Kesehatan Nasional Ke-58, 12 November 2022 : “Saatnya Instrospeksi, Revitalisasi dan Transformasi

    0
    12

    Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar
    Purna Bhakti ASN Kemenkes/BKKBN

    Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati untuk mengingatkan kerja sukses dari suatu kerja keras setelah melewati sejarah kelam dan panjang akibat malaria yang menyebabkan penderitaan dan kematian sangat tinggi diera 1950an.

    Perjuangan pemberantasan malaria dipimpin langsung Presiden RI Bung Karno dengan melakukan penyemprotan simbolis menggunakan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) pada 12 November 1959 di Desa Kalasan, Provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta.

    Penyemprotan dilakukan secara massal dan nasional dari rumah ke rumah, terutama didaerah endemik.

    Untuk mengorganisir upaya pemberantasan, Pemerintah memperkuat operasi pemberantasan malaria dengan membentuk Dinas Pembasmian Malaria (1959) dan kemudian menjadi Komando Operasi Pemberantasan Malasia (KOPEM) pada tahun 1963. Bekerjasama dengan WHO dan USAID, Pemerintah menargetkan malaria hilang dari bumi Indonesia tahun 1970.

    Bersamaan dengan kegiatan pemberantasan nyamuk malaria, dilakukan pula penyuluhan dan pendidikan masyarakat, untuk mengenal gejala awal terinfeksi malaria dan upaya pencegahan yang meliputi berbagai upaya perbaikan lingkungan, pengasapan hingga kampanye pakai kelambu.

    Kerja keras dan kerjasama Pemerintah dan masyarakat diseluruh wilayah Indonesia, dalam lima tahun sekitar 63 juta penduduk (70% dari 90 juta penduduk Indonesia diawal tahun 60an) telah mendapat perlindungan dari penyakit malaria, capaian sasaran (output) berhasil menurunkan secara bermakna angka kesakitan dan kematian akibat malaria (outcome).

    Sukses ini adalah fenomena luarbiasa karya Bangsa, karena segala infrastruktur masyarakat dan pelayanan kesehatan masih sangat amat terbatas.

    Kebersamaan yang kompak antara Masyarakat dan Pemerintah membuahkan hasil luar biasa dengan tercapainya target eliminasi malaria.

    Pada 12 November 1964 Presiden RI Bung Karno, menetapkan hari sukses pembasmian malaria sebagai peringatan Hari Kesehatan Nasional.

    Tentu setiap 12 November, menjadi peringatan tentang Kerja keras, Kerja Cerdas, Kerja terukur, Kerjasama dan Kolaborasi dengan pendekatan Introspeksi yang cermat, Revitalisasi semua fungsi dan Transformasi yang tepat.

    Malaria Datang Lagi
    Peringatan HKN ke-58 tahun 2022 mengangkat tema “Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku”. Khabar baiknya, dengan peringatan dan tema ini diharapkan membangkitkan semangat dan optimisme masyarakat dan optimisme seluruh masyarakat Indonesia terlepas dari Pandemi dan menjadi momentum mewujudkan Sistem Kesehatan Nasional yang lebih kuat.

    Khabar buruknya, penyakit malaria datang lagi, meluas dan mematikan. Disaat angka buta huruf semakin melandai. Lama masa belajar semakin panjang. Sebaran fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang sudah menjangkau hampir semua pelosok hingga daerah terpencil dan perbatasan. Didukung dengan Program kesehatan Nusantara Jaya dan banyak lagi. Malaria endemik lagi. Malaria datang lagi.

    Tidak hanya malaria. Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek pada Peringatan HKN ke-54 tahun 2018 mengatakan, saat ini telah terjadi Triple Burden Diseases atau tiga beban penyakit. Ketiga beban tersebut adalah bergesernya penyakit menular kearah penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, kanker, dan sebagainya. Beban kedua, muncul ancaman penyakit infeksi baru, seperti flu burung, ebola, TBC Resisten Obat dan infeksi Virus Corona yang sudah berlangsung sejak 2019 akhir hingga kini dengan mutasi yang cepat dan belum terkendali, PPKM masih diberlakukan. Dan beban ketiga, masyarakat masih dihadapkan pada masalah penyakit menular yang belum selesai seperti Demam Berdarah, HIV/AIDS, Filariasis, dan Kecacingan. Termasuk yang datang lagi (re-emerging disease) yaitu Malaria dan TBC.

    😷  Merawat Sumpah (Pemuda) Masih Nyambungkah Sumpah Itu dan Spirit Penggagasnya Hingga Kini?

    Tidak hanya penyakit, Indonesia juga mengalami beban ganda dalam masalah gizi yaitu menghadapi masalah undernutrisi (gizi kurang, pendek/stunting, dan kurus), dan masalah overnutrisi, yakni masalah obesitas atau kegemukan.

    Data Riskesdas Kemenkes tahun 2018 menunjukkan jumlah prevalensi Obesitas/kegemukan sudah mengkhawatirkan, yaitu diatas 100 juta penduduk Indonesia dan menjangkau semua usia.

    Ada kesalahan fatal dalam praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan rendahnya implementasi program Isi Piringku.

    Bukan hanya Malaria datang lagi. Tetapi masih banyak yang bisa datang lagi.

    Harus Bagaimana Kita Bersikap Atas Fenomena Ini 
    Dalam kacamata Surveilans epidemiologi, banyak faktor determinan yang bisa digali dan dianalisis untuk mendapatkan informasi lengkap terkait musabab dan solusi tepat untuk mengurangi dan eliminasi faktor risiko secara mendasar.

    Jika mata rantai Penyakit Datang Lagi tidak segera diputus, maka bukan hanya kualitas kesehatan Nasional menurun karena adanya Lost generation pada anak- anak Indonesia dan melemahkan Ketahanan Nasional, tetapi saat yang sama menggerus Anggaran Nasional karena kebutuhan biaya kesehatan dalam jumlah sangat besar besar dan tidak terduga.

    Tidak hanya kehilangan anggaran yang sangat besar, namun lebih buruk lagi terancamnya Ketahanan Nasional.

    Apalagi jika pesan Presiden Jokowi untuk menurunkan angka kejadian Stunting pada anak dari 27% saat ini (2022) menjadi 14% pada tahun 2024 tidak ditunaikan dengan serius, maka akan ada belasan juta anak Indonesia yang Stunted (kerdil dengan kecerdasan yang tidak berkembang), mereka menjadi Lost-generation, generasi yang hilang.

    Hilang dari dunia Pendidikan, hilang dari dunia kerja. Mereka “tidak punya apa- apa” untuk menjadi manusia. Mereka menjadi beban selamanya. Ini sungguh tragedi kemanusiaan di negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

    Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku
    Apresiasi kepada pak Budi Gunadi Sadikin, yang merasakan betul “tekanan multi aspek kesehatan” selaku Menteri Kesehatan yang kewenangannya terbatas, dan sebagai warga masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang merasakan kekurangan disana-sini.

    Ditangannya, walaupun bukan lulusan Fakultas Kedokteran, namun dengan kepekaannya berhasil membangun dan mengorganisir penanganan Pandemi Covid-19 dengan capaian yang melegakan.

    Dashboard Vaksinasi Kemenkes keadaan tanggal 10 Nopember 2022 tertulis, dari 234.666.020 sasaran Vaksinasi untuk tenaga kesehatan, lanjut usia, petugas publik, masyarakat rentan dan masyarakat umum, usia 12-17 tahun dan usia 6- 11 tahun, telah tervaksinasi Dosis 1 sebanyak 205 juta lebih (87,46%), Total vaksinasi Dosis 2 sebanyak lebih 172 juta (73,32%) artinya kondisi komunitas nasional sudah memasuki era Herd Immunity atau memiliki kekebalan komunitas. Apalagi Vaksinasi Dosis 3 (Booster) sudah menjangkau lebih 65 juta orang (30%).

    Capaian ini memberi kekebalan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia, yang jika terinfeksi Corona Virus (Covid-19 dengan berbagai Varian nya) menjadi punya daya tahan atau antibody untuk melawan virus.

    😷  Menyambut Munas XI KAHMI Di Palu : “Mengawal Independensi Di Era Disrupsi”

    Setidaknya jika terinfeksi baru maupun ulang, tidak langsung jatuh kritis tetapi punya kesempatan untuk melakukan “rebound” agar sang virus dapat dikalahkan dengan protokol medis yang tersedia dan terakses.

    Berbagai upaya lainnya untuk mengembangkan tehnologi peralatan medik fasilitas kesehatan, juga Industri obat-obatan (penambahan 50 jenis obat produksi dalam negeri) tentu akan sangat membantu pemerataan dan keadilan pelayanan kesehatan diseluruh Indonesia.

    Prioritas lainnya adalah memenuhi hak azasi pengguna pelayanan kesehatan dan sekaligus memenuhi pesan alam dan global untuk pengembangan potensi ketersediaan Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka, disamping pengembangan ketersediaan pelayanan kesehatan tradisional berbasis empirik yang dapat dipertanggungjawabkan dan terintegrasi di fasilitas kesehatan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan, sebagaimana amanat Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

    Pelayanan kesehatan perorangan juga penting sejalan dengan transisi epidemiologi yang bergeser kearah Penyakit Tidak Menular.

    Dengan adanya BPJS Kesehatan dan BPOM, maka Kemenkes dapat mendorong “Desain Baru” penanganan penyakit secara komprehensif, sejak dini, sejak kelahiran. Karena semua rakyat Indonesia, berdasar kerangka fikir bapak Public Health tuan Michael Blum “sudah punya faktor risiko sakit sejak kelahirannya”.

    Jika terkumpul Catatan Risiko Kesehatan setiap manusia Indonesia (277 juta orang) maka fungsi Promotif dan Preventif menjadi efektif, dan akan mengurangi aspek Kuratif beserta semua derivasinya, termasuk pembiayaan.

    Peringatan Hari Kesehatan Nasional, bukan seremonial.

    HKN akan menjadi lebih bermakna, jika digunakan untuk refleksi bersama tentang masalah bersama yang tidak dapat diambil alih secara sepihak baik oleh Pemerintah apalagi Masyarakat.

    Duduk bersama, berfikir bersama, menganalisa bersama, memutuskan bersama dan sama-sama berkerja, bermitra, berkolaborasi mengatasi semua masalah kesehatan bersama adalah sikap rasional dan pilihan cerdas.

    Tidak bisa penanganan masalah kesehatan diserahkan hanya ditangan Kementerian Kesehatan, sementara kesehatan melekat pada perilaku dan lingkungan hidup setiap orang perorang.

    Yang paling tahu dan cepat mendeteksi risiko sakit adalah orang atau komunitas itu sendiri.

    Pemerintah perlu menyediakan kebutuhan dan pilihan orang dan komunitas untuk membantu upaya peningkatan kualitas hidupnya termasuk kepada komunitas lanjut usia, yang mudah dijangkau dengan dukungan mitra kesehatan (Pmerintah dan Swasta) yang handal, peduli dan berdedikasi.

     

    Selamat Memperingati HKN Ke-58 Tahun 2022
    Bangkit Indenesiaku, Sehat Negeriku

    Jakarta Sunter, 11 November 2022

    *)Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Purna Bakti Kemenkes/ BKKBN, Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes (2017-2022)/Deputi BKKBN (2013-2017)/ Komisioner KPHI (2013-2019)/Direktur Kestradkom Kemenkes (2011-2013)/ Sekretaris Inspektorat Jenderal Depkes (2010-2011)/ Kepala Pusat Promkes Depkes RI (2008-2010)/ Sekretaris KKI (2005-2008)/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand (2004).

    AKTIVITAS : Ketua Umum BPP OBKESINDO (IHO)/ Ketua MN Kahmi (2009-2012)/ Ketua PB IDI (2012-2015/

    Sekretaris Jenderal PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Penasehat PP KMA-PBS/ Wakorbid.PP IKAL- Lemhannas/Pembina Yayasan Travel Asy-Syifa/ Pengasuh mediasosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here