Disfagia, Salah Satu Gangguan Tenggorokan Pada Lansia

0
29
disfagia

Pernahkah Anda mendengar tentang Disfagia? Ini adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan untuk menelan. Terdengar sepele memang, hanya sekedar menelan makanan atau minuman masak sulit? Ya, ternyata kondisi semacam ini banyak terjadi pada usia tertentu. Seperti bayi dibawah satu tahun dan lansia.

Kerongkongan merupakan salah satu ‘jalan’ yang menghubungkan antara tenggorokan atau faring dengan lambung dan paru-paru. terdapat jaringan lembab, yang disebut dengan mukosa, yang salah satu fungsinya adalah sebagai ‘pelicin’ yang membantu memperlancar proses menelan makanan. Namun, ada kondisi dimana seseorang merasa sulit untuk menelan. Atau, mungkin sekedar membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan orang lain, untuk sekedar menelan makanan. Jika begitu, berarti ada yang salah di beberapa organ pendukungnya, salah satunya adalah tenggorokan.

Kondisi susah menelan secara medis dikenal dengan istilah Disfagia. Disfagia sebetulnya bukanlah penyakit, namun dapat menjadi gejala suatu penyakit. Jika Anda makan terlalu cepat, Anda juga bisa saja terkena disfagia atau sulit menelan. Namun, dalam kondisi khusus, disfagia ini banyak terjadi pada bayi yang sedang belajar makan makanan padat, lansia, dan jura orang-orang yang mengalami kondisi medis khusus, seperti kelainan saraf dan jaringan otak.

Jika pada radang tenggorokan, seseorang akan merasakan sakit saat menelan. Atau, setidaknya ada rasa tak nyaman di tenggorokan. Begitu pula dengan disfagia. Namun, tentu saja da beberapa gejala lain yang mengikutinya ya. seperti makanan yang ditelan seolah-olah seperti tertinggal ditenggorokan. Sehingga, tak jarang menimbulkan gejala semacam tersedak. Dimana makanan yang hendak ditelan, keluar kembali. Dan tak jarang disertai dengan batuk-batuk serta rasa ingin muntah.

Beberapa Penyebab Disfagia, Baik Secara Medis Maupun Non Medis

penyakit disfagia

Hampir semua orang sebetulnya pernah mengalami disfagia. Bahasa tradisional yang banyak dikenal sebagai disfagia adalah ‘keseretan’ atau ‘tersedak’. Kondisi ini seringkali terjadi ketika seseorang terburu-buru saat makan. Umumnya hal ini dapat muncul karena tekanan udara pada organ pencernaan yang mendorong enzim pencernaan naik. Sehingga makanan yang hendak masuk, menjadi terhalang.

Dalam kondisi lain,. Disfagia atau tersedak juga banyak terjadi pada bayi atau anak kecil, yang belum terbiasa makan makanan padat. Apalagi, bagi orang tua yang menerapkan metode BLW untuk MPASI si kecil. Bayi yang memasukkan makanannya sendiri ke mulut, seringkali belum memiliki reflek yang baik. Potongan makanan yang terlalu besar juga dapat menjadi penyebab disfagia.

Sedangkan pada lansia, disfagia banyak terjadi karena usia. Penuaan yang tejadi pada orga tubuh memang tak dapat dicegah. Hal ini dapat beroengaruh pada fungsi kerjanya. Begitupula yang terjadi pada kerongkongan. Tenggorokan atau faring pada lansia, refleknya akan menurun. Sehingga lansia memiliki resiko lebih besar untuk mengalami disfagia.

Di sisi lain, ada pula penyebab terjadinya disfagia jika ditilik dari gangguan medis. Para lansia yang pernah terkena stroke, cidera otak, atau bahkan pernah mengalami cidera pada tulang belakang sehingga menyebabkan kerusakan, memiliki kemungkinan untuk mengalami kesulitan menelan atau disfagia. Selain itu, penyakit lain yang dapat mengakibatkan disfagia adalah Parkinson, post-polio syndrome, multiple sclerosys, dan muscular dysthropy.

Gangguan pada tenggorokan dan kerongkongan juga dapat menjadi pemicu terjadinya Disfagia. Seperti pembengkanan pada tenggorokan yang disebabkan oleh gangguan system imun, otok kerongkongan yang kejang, scleroderma dimana otot yang terdapat pada kerongkongan mengalami penyempitang dan mengeras, hingga tumor dan kanker yang menyerang tenggorokan atau organ sekitar kerongkongan, seperti kelenjar getah bening.

Bagaimana Cara Mengobati Disfagia?

Disfagia bukanlah penyakit yang serius jika hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Namun, jika kondisi ini dirasa sudah cukup mengganggu, bahkan sampai mengakibatkan penurunan berat badan yang drastic, maka tentu saja disfagia harus segera diatasi.
Saat pemeriksaan, dokter akan melihat seberapa jauh masalah yang terjadi pada tenggorokannya. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan beberapa metode canggih yang vterdapat di rumah sakit. Meliputi rontgen, endoscopy hingga citi scan. Tindakan ini dimaksudkan untuk melihat kondisi pada kerongkongan. Apakah ada perubahan pada bentuk kerongkongan, bagaimana dengan fungsi ototnya, hingga melihat koordinasi antara beberapa organ terkait. Seperti mulut, tenggorokan, kerongkongan hingga ke lambung.

Setelah permasalah utamanya diketahui, maka dokter akan memutuskan langkah apa yang dapat ditempuh agar disfagia dapat diatasi. Beberapa pilihannya adalah:

1. Merubah Menu Makanan
Untuk meminimalisir atau mempermudah proses makan, perubahan tekstur pada makanan merupakan salah satu pilihan yang tepat. Seperti mengkonsumsi makanan yang lebih lunak dan mudah ditelan. Misalnya bubur, sayuran berkuah dan jus.

2. Pemberian Obat-obatan
Terapi berupa obat pada kondisi disfagia kebanyak diberikan pada seseorang yang mengalami disfagia akibat dari infeksi pada tenggorokan dan masalah gangguan pencernaan. Seperti asam lambung yang tinggi, maag, hingga infeksi pada lambung.

3. Tindakan Operasi
Tak sembarangan, ketika dokter ahli sudah menyarankan suatu tindakan operasi, itu artinya memang sangat diperlukan. Tindakan operasi yang dilakukan terkait dengan disfagia biasanya tak dapat dileoaskan dengan adanya kanker ataupun tumor. Tujuan dari tindakan operasi ini adalah untuk mengangkat tumor atau kanker yang ada pada kerongkongan.
Selain itu, operasi juga dapat ditempuh bagi penderita disfagia yang mengalami masalah pada otot kerongkongan bagian bawah.

4. Dilasi
Dilasi merupakan tindakan pemasangan suatu alat pada kerongkongan. Terutama untuk disfagia yang terjadi akibat penyempitan pada kerongkongan. Jadi, alat ini dapat memperlebar bagian kerongkongan yang mengalami penyempitan.
Sebagai salah satu masalah pada tenggorokan, Disfagia yang terjadi pada usia lanjut memang sulit dihindari. Namun, untuk memperbesar resiko terjadinya, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Diantaranya, tidak merokok, menjaga pola makan, dan membiasakan diri makan dengan yang benar. Yaitu, tidak tergesa-gesa dan dalam kondisi duduk dengan tenang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here